Kamis, 15 Desember 2011

Kemelut Yang Merubungi Telinga

Visualisasi Puisi Di TBSU
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Tidak hanya melahirkan banyak penderitaan dan kesedihan, ternyata berbagai kemelut dan bencana yang terjadi di negara kita juga dapat memekakkan telinga. Setidaknya hal tersebutlah yang terasa di menit-menit awal pertunjukan ”Visualisasi Puisi” oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Medan, hingga melumpuhkan kenyamanan telinga sebagian besar penonton. Dentuman soundsystem nampaknya terlampau perkasa meskipun gedung utama merupakan arena terbesar di Taman Budaya Sumatera Utara.



”Visulisasi Puisi” yang berlangsung pada Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Rabu, 15 Desember 2010 lalu dipentaskan dengan latar panggung yang cukup megah berupaya mengajak penonton untuk sejenak merenungkan dan menyadari berbagai persoalan yang melanda negeri ini. Pertunjukan ”Visulisasi Puisi” dibuka dengan puisi Chairil Anwar berjudul ”Persetujuan dengan Bung Karno”, dilanjutkan dengan beberapa puisi karya Idris Pasaribu, Juhendri Chaniago, Sakinah Annisa Mariz, Sidrata Emha, H. Ahmadun Yosi Herfanda, dan Antilan Purba.
Melalui visualisasi seperti ini, selain menyaksikan penyampaian yang berbeda dalam berpuisi—kerpa dalam bentuk deklamasi atau baca puisi—,kita dapat menyaksikan sejarah kecil pergolakan serta rentetan bencana yang belakangan agaknya sering berkunjung ke negara kita. Sejarah yang dirangkum lewat lirik-lirik tajam, puitis, pedih, ditingkahi pola gerak dan tari serta musik dan tentu saja mengandung pesan nasionalisme yang kental dan pengaduan pilu kepada Sang Pencipta alam.



Penataan panggung yang cukup anggun pada pertunjukan ini terlihat kurang diimbangi kualitas pertunjukan yang mengetengahkan berbagai kemelut dan bencana di tanah air sejak perjuangan kemerdekaan hingga saat ini. Sayangnya, ketidaktelitian dalam penataan panggung tak selesai sampai disitu, beberapa perlengkapan pertunjukan serupa jala yang diletakkan pada lantai panggung nyatanya beberapa kali mengganggu langkah para pemain yang menari-nari dan berpuisi. Kian kentara sebab beberapa dari mereka merasa terganggu dan mempelihatkannya dengan jelas. Sejumlah penonton untuk beberapa saat lebih tertarik dengan pemandangan itu ketimbang visulisasi puisi.
Selanjutnya, seorang penjahit yang terbiasa dengan kain dan benang akan kewalahan jika tiba-tiba diminta untuk mengaspal jalan raya. Bahkan seorang penyair belum tentu dapat membaca puisi dengan baik. Demikian juga dengan adanya pemain pertunjukan yang kelihatannya tidak direncanakan dengan matang muncul di panggung, pada akhirnya akan menimbulkan suasana yang berbeda dan tak terduga. Setidaknya hal itulah yang terlihat saat novelis Kirana Kejora—yang dijadwalakan akan launching novel terbarunya—turut serta unjuk diri di penghujung pertunjukan.
Panggung menjelma arena sayembara pembacaan puisi sebab kemampuan dan kekuatan masing-masing pemain pertunjukan jelas sekali perbedaannya. Maka tercipta sebuah grafik naik turun akan ukuran kemampuan para pemain visualisasi kali ini. Pada bagian tertentu penonton berdecak kagum pada pelakon yang membacakan puisi dengan baik, meski tanpa clip on. Seperti halnya Sidrata Emha yang memvisulisasikan karyanya dengan judul Asa Dalam Lahar Mentari, tampil memukau dan rileks tanpa bantuan clip on. Dan tak sekali pula penonton menghela nafas menyaksikan pelakon dengan clip on namun tak tampak lebih baik.
Penggunaan clip on pada para pemain ternyata tidak diikuti oleh manajemen suara yang baik. Clip on yang bertujuan agar suara para pemain terdengar jelas, ditambah dengan pembacaan puisi yang cenderung emosional dan dipenuhi teriakan hampir di tiap puisi justru memperkeruh keadaan. Dan sekali lagi, menguatkan kekurangtelitian penyelenggara dalam hal manajemen suara. Artikulasi justru tertangkap samar-samar, hilang ditelan teriakan yang membahana di seluruh ruang pertunjukan. Para pemain memilih kekuatan intonasi serta penyampaian menggebu-gebu ketimbang memperkuat mimik serta bahasa tubuh, padahal pertunjukan yang berlangsung adalah visulisasi bukan musikalisasi yang dititik beratkan pada suara. Usaha dan persiapan yang dilakukan guna menampilkan pertunjukan terbaik akhirnya berujung pada reaksi penonton yang sedikit terganggu. Usaha memperkeras suara berubah memperburuk suasana.
Pun begitu, perpindahan puisi yang satu dengan puisi yang lainnya terlihat cukup rapi dan kerap diiringi lagu-lagu dan tarian, sebagian besar diantaranya adalah lagu nasional dan juga lagu yang legendaris yang menyimpan kenangan yang kuat pada masa-masa tertentu pergolakan di tanah air. Pada bagian ini, pertunjukan sedikit banyak berhasil membangkitkan rasa nasionalisme penonton serta merta menggoda ingatan dengan gegap gempita tari dan musik, serta lagu nasional yang saat telah jarang ditemui kecuali pada upacara bendera.
Sayangnya, beberapa kali terlihat bahwa para pemain tidak cepat tanggap pada lampu sorot yang menyala di tengah panggung yang mengharuskan mereka bervisualisasi dibawahnya. Beberapa pemain termasuk Kirana Kejora tidak lantas melakukan pergerakan kecil menuju cahaya lampu. Cahaya lampu menjelma kemubaziran di tengah pertunjukan. Sempat juga terjadi kepanikan kecil ketika salah satu pemain bergerak memutari panggung dan tanpa sengaja menabrak perlengkapan panggung yang beresiko jatuhnya properti yang tidak kecil tersebut. Penonton dihinggapi cemas. Sementara itu, penutupan pertunjukan sama halnya dengan pembukaan pertunjukan, menampilkan visualisasi yang diramaikan dengan bendera diiringi lagu nasional dan tak lupa tarian serta gerak lincah para pemain yang menjadi ciri khas pertunjukan kali ini.
Kesempurnaan memang tak akan pernah terjamah oleh kita sebagai ciptaan-Nya. Namun alangkah baiknya jika usaha untuk menyempurnakan segala sesuatunya dilakukan secara maksimal sehingga memperkecil kemungkinan kesalahan yang terjadi pada pertunjukan. Pun demikian, apresiasi tertinggi patut di diberikan pada KSI Medan yang telah mampu menghadirkan kemelut dan bencana dengan cukup indah dan emosional dalam usaha pengumpulan sumbangan spirit bagi bangsa Indonesia.


Penulis adalah mahasiswa FBS Universitas Negeri Medan,
dan penikmat seni pertunjukan.

- Harian Waspada, Minggu, 26 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar