Kamis, 15 Desember 2011

Dari Komunitas Hingga Gelar Sastrawan

Omong-omong Sastra di Binjai
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Kediaman yang asri milik salah satu sastrawan Sumatera Utara, Saripuddin Lubis di Binjai, ternyata tak menjamin sebuah diskusi akan berlangsung dingin dan sejuk. Diskusi mengenai komunitas sastra mungkin tak akan ada habisnya. Pembicara, bahkan masing-masing peserta memiliki pendapat yang berbeda soal topik pembicaraan. Setidaknya hal itu akan terlihat pada ”Omong-omong Sastra” yang diadakan pada Minggu, 6 Maret 2011 sejak pukul 11.00 WIB. ”Omong-omong Sastra” merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan para sastrawan Medan (Sumatera Utara). Konon, wadah diskusi antar para sastrawan ini sudah berlangsung sejak 35 tahun yang lampau.



Keterangan foto:

Damiri Mahmud (kanan), Wahyu Wiji, Afrion dan Yulhasni dalam “Omong-omong Sastra” di Binjai.


Acara diskusi ini berlangsung secara periodik (tergantung waktu dan kesempatan) dari rumah ke rumah. Sejumlah sastrawan tampak hadir pada diskusi kali ini seperti; Damiri Mahmud, D. Rivai Harahap, Sulaiman Sambas, M. Raudah Jambak, Hasan Al Banna, Nasib TS, Norman Tamin, Idris Siregar, M. Yunus Rangkuti, Herni Fauziah serta beberapa penulis muda lainnya. Diskusi berlangsung sekitar 4 jam dan dimeriahkan juga dengan pertunjukan musikalisasi puisi yang dibawakan dengan sangat apik oleh siswa SMAN 2 Binjai.
Afrion ditunjuk forum sebagai pemandu dua pembicara: Yulhasni (pengamat sastra) dan Wahyu Wiji Astusti (penulis dan penggiat komunitas). Yulhasni menyodorkan tema komunitas sastra di Sumut. Selanjutnya, Wahyu Wiji Ayu banyak menyinggung topik sastra kontemporer. Kedua pembicara menyampaikan pemikirannya dengan apik meskipun lebih banyak membaca makalahnya hingga lembar terakhir. Diskusi yang berkembang selanjutnya lebih dititikberatkan pada masalah komunitas sastra.
Ya, Yulhasni lewat makalahnya mengurai satu kenyataan yang kemudian dianggap sebagai masalah. Komunitas sastra belakangan memang tengah berkembang dengan pesat di Sumatera Utara, terutama di beberapa kampus yang memiliki beberapa komunitas sekaligus. Beliau merasakan fakta bahwa komunitas sastra yang tersebar di Medan belakangan ini hanyalah sebagai wujud perayaan penciptaan karya dan berkumpulnya penulis sastra tanpa melakukan perubahan besar demi kemajuan ranah sastra Medan. Bagi Yulhasni, suatu kelompok kesusatraan sebenarnya dilahirkan untuk sebuah kelahiran baru bagi genre sastra itu sendiri. Beliau bernasihat kritis betapa sebaiknya komunitas sastra harus memiliki ideologi dan mencipta sesuai ideologi yang diusung. Dan perlunya komunitas-komunitas melakukanpenolakan hegemoni yang tidak sesuai.
Sebagai salah satu peserta diskusi, Dani Sukma A.S berpendapat lain. Dia menuduh pembicara melupakan hal yang paling mendasar tentang alasan seseorang memilih masuk ke dalam sebuah komunitas sastra. Tentu ingin mengetahui bagaimana cara menulis sastra yang baik dan bagaimana agar dapat mengembangkan kemampuan menulisnya. Pembentukan sebuah komunitas penulis kampus adalah juga sebuah upaya pembuktian bahwa seorang sarjana mampu menulis serta bersastra dan tidak hanya bergelut dengan bidang akademisi semata. Bayangkan, bagaimana ketika kemudian penulis pemula disodori dengan ideologi?
Damiri Mahmud lain pula. Damiri menyatakan bahwa inovasi pada ranah sastra tidak harus melalui gebrakan dan penemuan genre baru. Melainkan yang lebih penting adalah bagaimana seorang sastrawan dapat terus menulis dan memberikan pencerahan bagi semua orang tanpa harus terpatok pada genre penciptaan dan akhirnya melakukan kemunafikan.
Sementara itu, Wahyu dalam makalahnya menjelaskan ihwal puisi kontemporer yang belakangan marak dibicarakan dan ditulis oleh beberapa penyair muda. Secara pribadi Wahyu menjunjung tinggi kebebasan dalam menulis dan berekspresi. Meskipun begitu, banyak penulis muda lainnya masih merasa bahwa puisi konvensional lebih indah karena mudah dimengerti dan sederhana hingga pesan yang terkandung akan dapat ditangkap oleh pembaca. Dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) yang diketuainya, Wahyu menggiring anggotanya untuk terlebih dahulu menekuni proses penciptaan puisi konvensional.
Hakikatnya, kedua topik yang dibahas pada “Omong-omong Sastra” berkaitan erat. Pembahasan ‘kemeriahan’ komunitas sastra di Medan diharapkan melahirkan sebuah gebrakan baru atau bahkan genre baru dalam ranah kesusastraaan yang akhir-akhir ini dianggap monoton. Ulasan Wahyu tentang sastra kontemporer juga terkait langsung dalam kesemarakan kesastraan itu sendiri. Sastra kontemporer (dalam konteks kebaruan ideologi) itulah yang mungkin ditagih Yulhasni dari pena para penulis yang berkhidmat di komunitas-komunitas sastra di Medan yang berpusat di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU).
Kebebasan pada hakikatnya adalah milik semua orang. Juga milik setiap penulis, baik dari segi penyampain maupun dari segi isi. Besar harapan, kiranya para sastrawan tidak terlena akan kebebasan yang dimilikinya. Sehingga tidak semata-mata memamerkan keahlian dan kekreatifan yang luar biasa sehingga tak jarang sebuah puisi sama sekali tidak dapat diinterpretasi dengan mudah oleh para pembaca. Hal ini dapat dengan mudah terlihat. Bahkan para mahasiswa Jurusan Sastra akan mengalami kesulitan untuk memaknainya. Lantas bagaimana dengan para pembaca awam lainnya? Dan benarkah sudah tersedia banyak sastrawan yang mampu menjelaskan dengan benar akan makna yang sebenarnya dari puisi-puisi yang menyimpang tersebut?
Pada akhirnya tidak dapat dielakkan bahwa puisi-puisi kontemporer dengan permainan bahasa serta tipografi sedemikian rupa, terkadang justru menimbulkan kebingungan dan tentu saja akan ditinggalkan masyarakat. Yang lebih diperlukan bangsa kita pada saat ini adalah karya sastra yang sederhana, komunikatif, mudah dicerna dan tentu saja mengandung pesan-pesan pencerahan. Dengan demikian juga dapat menumbuh kembangkan minat mengapresiasi sastra oleh masyarakat luas.
Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Tentu saja kehadiran komunitas-komunitas penulis di Medan layaknya disambut baik, sebab dari komunitas-komunitas itulah diharapkan melahirkan para sastrawan yang berkarakter. Ideologi yang diharapkan tumbuh di setiap komunitas bisa saja makin kokoh seiring berjalannya waktu dan proses kreativitas anggota komunitas. Pun demikian, tidaklah sebuah komunitas diharuskan memiliki sebuah ideologi dalam menulis atau berkarya, karena justru akan membatasi perjalanan hasil sastra.
Namun, tidak seharusnya komunitas menjadi tempat bergantung para penulis sehingga akan membunuh kemandirian penulis itu sendiri. Kelak penulis yang sangat bergantung pada komunitasnya akan rikuh ketika harus terjun sendiri tanpa bantuan komunitas. Belenggu komunitas juga kian rapat karena pada akhirnya tak jarang penulis kurang bersosialisasi dan merasa eksklusif dengan komunitasnya. Seolah tak membutuhkan dunia lain di luar komunitas. Komunitas agaknya bukan sarana pembaptisan bagi calon sastrawan. Seperti halnya penyataan ekstrem Yulhasni yang mengatakan bahwa TBSU juga menjelma sebagai arena baptis seseorang menjadi sastrawan.
Begitupun, kedua pemikiran demikian di atas tetap bisa didebat. Terkhusus pernyataan Yulhasni yang dituding beberapa peserta diskusi berlebihan. Betapa tidak? Banyak orang yang berkunjung ke TBSU untuk masuk ke proses pembelajaran aneka seni, terutama sastra.
Namun, dangkal juga jika kemudian pernyataan Yulhasni ditelan begitu saja. Manalah ada asap tanpa api? Yulhasni tak mungkin berpendapat sedemikian rupa tanpa bukti-bukti dan kenyataan yang ditemui di lapangan sebab beliau juga termasuk orang yang sering ”singgah” di TBSU. Apakah memang terdapat banyak orang yang mengakui diri sebagai sastrawan setelah sering berkunjung dan berdiskusi ke TBSU? Boleh jadi!
Segelintir orang yang terganggu pernyataan kontroversial tersebut setidaknya haruslah bertanya pada diri sendiri. Selanjutnya mencoba memberikan penyanggahan dengan menelurkan karya-karya nyata dan tidak hanya berlalu lalang di TBSU semata.
Demikianlah, ”Omong-omong Sastra” kali ini benar-benar menggiring kita untuk menjejaki ranah berpikir yang belum pernah kita injak sebelumnya.

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
di FBS Unimed

- Harian Waspada, Minggu, 13 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar