Rabu, 25 Maret 2015

Super Bablas: Dekadensi Paradigma dan Kelatahan yang Serta Merta

Oleh : Yosi Abdian Tindaon   

     Belakangan ini wacana mengenai boyband Korea SuJu (Super Junior) tengah ramai dibicarakan. Wajar saja, beberapa waktu yang lalu, Super Junior baru saja melakukan konser yang bertajuk SuperShow4 di tanah air, tepatnya di Jakarta. Berbagai media, baik cetak maupun elektronik gencar memberitakan mereka. Bahkan sebagian besar pengguna beberapa situs jejaring sosial yang mendunia seperti facebook dan twitter sering mengangkat mereka sebagai tema pembicaraan.

            
         Beberapa hari yang lalu saya sedang menyimak timeline, tanpa sengaja membaca perdebatan sengit antara para fans fanatik SuJu dengan sebuah akun twitter yang menerbitkan beberapa foto dan menuliskan beberapa posting  yang menyatakan bahwa para personel SuJu adalah sekumpulan gay. Pasalnya, di berbagai situs tengah ramai dibicarakan perilaku yang menyimpang dari para personel SuJu yang terdiri dari sembilan lelaki berpenampilan dandy ini. Iseng-iseng dan penasaran, saya kemudian menelusuri perdebatan sengit itu dan juga menilik beberapa foto yang diterbitkan.
            Apa yang saya dapatkan dari hasil penulusuran itu kemudian adalah sangat memprihatinkan. Seorang fans fanatik SuJu yang biasanya disebut ELF, menuliskan “Kalian tidak mengerti adat dan budaya korea, jadi lebih baik tidak usah bicara”. Ironis, seorang generasi muda Indonesia ternyata jauh lebih mementingkan adat dan budaya Korea tinimbang adat dan budaya bangsa sendiri. 

Membela dan terkesan ngotot akan pendapat mereka bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan SuJu dengan berciuman dengan sesama personel adalah hal yang lumrah.

Pergeseran Pola Pikir
            Segala macam hal yang berbau Korea nampaknya memang tengah mewabah di tanah air. Hal ini terlihat dari munculnya bebagai  grup musik yang berkiblat serta meniru boyband dan girlband  korea. Baik lelaki maupun perempuan berdandan sedemikian rupa dan menyayi sambil menari di layar kaca. Liriknya didominasi tema percintaan dan segala hal yang menyangkut kaum muda. Tidak hanya itu, gaya berbusana ala Korea pun tengah marak dan membanjiri pasaran. Penjualan pakaian secara online akan lebih diminati jika mereka mencantumkan embel-embel “ala Korea” atau “buatan/ diimpor dari Korea”.
            Para remaja kerap menggunakan bahasa Korea untuk saling sapa di berbagai social-media, namun tampaknya kurang memperhatikan penggunaan bahasa Indonesia mereka yang terkesan serampangan dan “semau gue” tanpa mengingat kaidah bahasa Indonesia.
     Air tenang, menghanyutkan. Begitulah kira-kira perumpamaan lama yang dapat merepresentasikan kedaan generasi saat ini. Dekadensi paradigma yang ekstrim terjadi dalam waktu yang singkat. Tanpa disadari, jiwa kebangsaan terkikis bersama dengan vokalnya para remaja melafalkan segala hal yang berkaitan dengan korea. Baik aktor atau aktris, film, serial, musik, dan selera berpakaian. Pada saat yang sama gedung-gedung pertunjukan seni dan budaya local kian sepi. Pementasan teater yang “lebih Indonesia” terpinggirkan. Penggunaan bahasa Indonesia dengan kesalahan yang fatal kian banyak ditemukan.
            Perlu adanya filter bagi diri para generasi muda dalam menerima kebudayaan lain. Misanya para personel boyband -yang kerap mempertontonka aksi saling berciuman di atas panggung- yang diklaim para penggemar mereka sebagai salah satu adat dan budaya Korea, jelas sangat bertentangan dengan adat dan budaya kita. Generasi muda perlu membentengi diri mereka dari budaya luar agar mereka tidak kehilangan “keindonesiaannya”, sehingga tidak perlu menggunakan nama akun sosial-media dengan nama-nama asing untuk mengekspresikan kecintaan mereka terhadap segala sesuatu yang asing dan belum tentu baik.

*Penulis adalah seorang mahasiswa Pendidikan Profesi Guru jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar