Jumat, 02 November 2012

Komedi Tragis Ala Medan

Pementasan Monolog “Nensi” di TBSU
Oleh: Yosi Abdian Tindaon


            Tak selamanya sebuah pertunjukan yang mengusung tema komedi hampir dapat dipastikan akan menampilkan sebuah akhir bahagia dan penuh kelucuan juga. Bisa jadi terjadi hal yang sebaliknya. Setidaknya hal itulah yang justru terjadi pada ”Nensi”. Berlangsung pada Sabtu, 13 Oktober 2012 di Gedung Sanggar Tari Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan No.33 Medan, monolog yang ditulis oleh Syahfitra Harahap dan Ronald Tarakindo Rajagukguk tersebut menampilkan sejumlah pelakon muda dari Sanggar Air Putih. Monolog ”Nensi” adalah produksi kedua dari sanggar yang diketuai oleh Haykal Abimayu ini, setelah sukses menggelar pementasan pertamanya pada Maret lalu dengan lakon Cipoa karya Putu Wijaya. Disutradarai oleh sang pemeran utama, Ronald Tarakindo Rajagukguk, monolog ini juga disemarakkan oleh para pemeran pendukung yakni  Kannegi, Rusdi, Putri Indah, Faisya, dan Kencol.
             Dijadwalkan akan dipentaskan pada pukul 19.30 WIB, nyatanya pementasan undur beberapa saat dikarenakan meluapnya penonton tak sebanding dengan daya tampung Sanggar Tari yang terbilang mini. Meski panitia dengan segala kerendahan hati telah menghanturkan maaf dan mengajukan solusi yang tak akan merugikan para penonton yang kadung membeli tiket –namun tak dapat duduk–, hal ini memang layak menjadi catatan bagi para pekerja seni pementasan untuk kedepannya dapat lebih jeli memperhitungkan kuantitas penonton dan kedaaan ruang pementasan demi mengurangi ketidaknyamanan dan terlambatnya waktu pementasan.

Ronald Tarakindo Rajagukguk sedang berlakon dalam 
Monolog ”Nensi”Sabtu, 13 Oktober 2012
di Gedung Sanggar Tari TBSU Medan

            Sebenarnya tidak ada tema yang begitu istimewa dan ”wah” pada pementasan monolog kali ini. Bercerita tentang seorang pemuda bernama Boynal yang mengakui dirinya sebagai seorang playboy dan berkisah perihal petualangan cintanya dengan banyak wanita. Suatu ketika  Boynal yang baru saja mengalami kekecewaan mendalam pada seorang wanita,  kembali bertemu dengan seorang kawan lamanya melalu social media. Setelah pertemuan mereka, sang pria  merasa jatuh hati kepada kawan lamanya yang bernama Nensi tersebut.  Sayang sekali karena di kemudian hari  Boynal  harus menerima kenyataan pahit bahwa Nensi telah bertunangan dengan pria lain. Selanjutnya sudah dapat ditebak, playboy yang tengah kena batunya itu kemudian patah hati dan depresi. Boynal lantas menghabiskan waktu dengan melakukan segala hal buruk dan menikmati kehidupan malam yang justru semakin membuatnya terperosok ke dalam jurang despresi yang kian kelam.

            Tema yang seperti ini sebenarnya sudah awam sekali ditemui, terlebih dalam tayangan FTV sehari-hari di televisi. Namun tentu saja sebagai lakon komedi ”Nensi” jelas berhasil dalam upayanya membuat penonton terbahak-bahak akan pola gerak dan tutur Ronald Tarakindo Rajagukguk, bahkan sudah sejak sejak adegan-adegan awal pementasan.
            Apakah sekedar bualan seorang pemuda playboy yang mengisi monolog ”Nensi”? Tentu saja tidak. Sepertinya tidak akan berlebihan jika menganggap monolog ini sebagai sebuah komedi tragis. Betapa tidak? Penonton yang sedari awal melepaskan serentetan gelak tawa yang bergemuruh akhirnya diam terhenyak atau bahkan terharu pada bagian akhir cerita. Ya, Boynal yang merasa begitu kecewa, cemburu dan kalap terhadap Nensi akhirnya membunuh Nensi dengan kejamnya. Seusai membunuh Nensi, ia menyimpan mayat perempuan yang amat dicintainya itu bersamanya dan menghabiskan waktu berdua. Bahkan sesekali mengajak raga yang tak lagi bernyawa itu bercanda. Sebuah akhir cerita yang memang tak diduga. Cerita ini dengan kata lain menggiring para penonton pada sebuah tragedi yang kejam dengan kelucuan-kelucuan sebagai pengantarnya.
            Monolog ”Nensi” yang ditulis oleh penulis lokal jelas memiliki ciri tersendiri dibandingkan karya-karya para penulis lain –yang tidak berasal dari Sumatera Utara–  yang kerap diadaptasi ke budaya lokal. Monolog ”Nensi”  dengan sangat gamblang dapat dicerna dan dimengerti sebab unsur ceritanya sendiri pun banyak berasal dari lokal, yakni dari Medan. Seperti nama beberapa tempat yang begitu dikenal di Kota Medan berulang kali disebutkan dalam cerita. Hal ini tentu saja membuat penonton merasa ”tidak berjarak” dengan cerita. Ya, sudah sejak lama tentunya banyak orang akan bersepakat bahwa unsur lokal sangat berpeluang baik akan membuat sebuah karya lebih membumi dan diterima para penontonnya.
            Poin menarik lainnya adalah pertunjukan dengan menghadirkan lawakan segar dan dialog yang ringan memang tampaknya telah lama dinanti oleh para penonton.  Banyak anggapan yang muncul selama ini bahwa pementasan monolog –teater pada umumnya– cenderung ”merepotkan diri sendiri” dengan tema-tema yang berat dan sulit dicerna para penonton awam. Kiranya menjadi pengingat juga bagi para pelaku pertunjukan bahwa tema-tema yang ringan dan menghibur justru nampaknya lebih mudah menawan hati para awam sastra.
            Lazimnya sebuah monolog yang mengharuskan sang pemeran utama terus menerus berceracau dan berlakon seorang diri, ”Nensi” juga membuat Ronald Tarakindo Rajagukguk melepaskan kalimat demi kalimat nyaris tanpa jeda yang cukup berarti. Sehingga maklum jika kemudian pemeran utama beberapa kali terlihat terengah-engah dan mengulang beberapa kata demi menutupi buruknya artikulasi. Menyadari hal tersebut yang kiranya membuat Ronald semakin terlihat tidak enjoy dan tergesa-gesa dalam berperan.
            Ternyata tak selamanya ruang Sangar Tari TBSU yang terbilang mini memberikan imbas yang buruk pada pementasan kali ini. Di ruangan tersebut suara musik dan para pelakon justru lebih terdengar lebih jelas dan bulat meski tanpa bantuan sound-system yang cukup mumpuni. Juga jarak antara penonton dan para pelakon yang terbilang dekat membuat pementasan lebih terasa nyata. Demikian juga tata lampu yang beberapa kali dengan apiknya mampu mempertegas kesan pada setiap adegan yang bergulir pada panggung.  
            Juga dengan tata panggung yang amat sederhana, monolog ini tetap dapat mengalir dengan baik. Di bagian tengah pementasan terdapat adegan sang pemeran utama menari dengan beberapa lelaki yang berkostum wanita dengan musik disco yang hingar bingar dan populer. Serta merta penonton bergelak riuh. Semakin memperjelas bahwa ”Nensi” berhasil merebut hati penontonnya dengan rentetan kekonyolan dan banyolan para pelakon. Tata musik memang terbilang cerdik dengan melatari berbagai adegan dengan beberapa lagu yang tengah populer sehingga cerita terkesan lebih hidup dan baru. Hal ini tentu saja kurang senada dengan kostum para pelakon yang didominasi warna-warna cerah yang justru mengingatkan pada gaya berpakaian era 80’an.
            Di tengah lesunya kancah teater Sumatera Utara karena sepi peminat, berbagai usaha yang dilakukan setiap sanggar untuk tetap bertahan dan eksis berkesenian memang patut mendapatkan apresiasi yang tinggi. Demikian juga Sanggar Air Putih yang baru berumur dua tahun ini tak ubahnya adalah cikal bakal yang harus membangun diri dan bertahan dari banyak rintangan, sehingga dapat pula menjadi sebuah sanggar yang layak diperhitungkan karena karya-karya apik dan penuh inovasi yang ditampilkan, guna menyuguhkan wajah baru dan melakukan penyegaran pada ranah teater di Medan.

Penulis adalah penikmat seni pertujukan.

- Harian Waspada, Minggu, 21 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar