Kamis, 15 Desember 2011

Kritik Tajam Lewat Lakon Komedi

Pementasan Opera ”Raja dan Ratu Air”
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Berbagai macam cara penyampaian kritik dapat dilakukan sedemikian rupa, tidak hanya dengan demonstrasi dan orasi besar-besaran di jalan raya, juga lewat pertunjukan opera dan lakon komedi. Ya, komedi! Teater Gelanggang Kreasi Seni Indonesia (Generasi) bekerjasama dengan Rumah Kata mempertegas anggapan tersebut. Lewat Opera ”Raja dan Ratu Air”, Teater Generasi mencoba ikut mengkritisi pola tingkah para petinggi dan pemegang kekuasaan yang cenderung serakah, egois, licik dan menggunakan segala cara dalam mengolah dan mendayagunakan sumberdaya alam yang tersedia demi kemakmuran dirinya sendiri.



Keterangan foto:

Lakon Opera ”Raja dan Ratu Air”, Jumat, 13 Mei 2011 di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Medan.


Berlangsung pada Jumat, 13 Mei 2011 di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan No.33 Medan. Opera menampilkan beberapa aktor dan aktris muda yang tergabung dalam Sanggar Generasi Medan di antaranya Niena Winata, S. Yadhie, Cut Aida, Sutriono, Syahdi Azhari dan lain-lain. Opera diawali dengan musikalisasi puisi yang dibawakan siswa Sekolah Menengah Pertama dan dilanjutkan dengan mahasiswa FKIP UISU. Sebanyak tiga buah puisi dimusikalisasikan sebagai pembuka pertunjukan.
Opera ”Raja dan Ratu Air” yang ditulis oleh Idris Siregar dan disutradarai Suyadi San mengangkat cerita beralatar dua kerajaan yang saling memperebutkan sumber mata air yang terletak pada kerajaan Sang Ratu, namun diklaim juga sebagai milik Sang Raja. Perseteruan kian rumit sebab masing-masing utusan yang dikirim kedua belah pihak sebagai pencari informasi pihak lawan justru saling jatuh hati.
Dimulai dengan sebuah lagu yang dibawakan para pelakon. Sayang, di awal pertunjukan, kelemahan pada bagian suara sudah terasa. Tak terelakkan, suara para pelakon yang bernyanyi terdengar sayup-sayup di antara bunyi alat musik yang mendominasi. Tampaknya para pelakon telah benar-benar berusaha menampilkan performa suara terbaik dengan artikulasi yang jelas, namun tak mengimbangi deru alat musik dan riuh penonton yang didominasi oleh para pelajar SMP dan SMA.
Dijadwalkan sebagai opera yang mengusung komedi pada cerita yang ditampilkan, Teater Generasi nampaknya tidak begitu berhasil. Seumpama kendaraan yang ngadat , lajunya jadi tersendat. Penonton sesekali tertawa gelak karena dialog atau pola dan gerak pelakon yang bertingkah lucu di atas panggung. Tapi sayang, gelak tawa penonton tidak mendominasi opera. Sebagian besar penonton bahkan merasakan jenuh disebabkan dialog yang monoton dan pelakon asyik sendiri di atas panggung pertunjukan.
Harapan penonton untuk menyaksikan lakon komedi yang menghibur tak dapat terpenuhi. Niat utuk menampilkan kesegaran dalam kancah teater Medan –yang kerap kali mementaskan teater dengan ”keseriusan” dan ”kerumitan” – , Opera ”Raja dan Ratu Air” diibaratkan hidangan yang perlu ditanak lebih lama lagi agar benar-benar menghasilkan cita rasa yang nikmatnya tidak setengah-setengah.
Kemegahan biasanya tak lepas dan selalu bersinggungan dengan sebuah kerajaan. Demikian juga tata panggung Opera ”Raja dan Ratu Air” memperlihatkan dengan jelas keanggunan singgasana yang menawan, juga penuh warna-warna ceria. Pun begitu, tak menggambarkan konsep kerajaan secara detail.

Menyingkap Kesepian Apresiasi

Workshop Musikalisasi Puisi di USU
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Ungkapkan dengan kata, pertegas dengan bunyi. Demikian yang dapat disarikan pada ”Workshop/ Pelatihan Musikalisasi Puisi Guru SMP/ SMA dan Mahasiswa Se-kota Medan dan Sekitarnya” yang berlangsung pada Jumat dan Sabtu 18-19 Maret 2011 mulai pukul 09.00 s/d 17.00 WIB di ruang serbaguna Fakultas Sastra USU.
Pelatihan ini dilaksanakan atas kerjasama: Komunitas Musikalisasi Puisi (KOMPI) Medan, Departemen Etnomusikologi,Fakutas Sastra USU, dan Program Studi Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni USU.
Pelatihan terbilang komplit dari segi materi. H. Fredie Asri memaparkan pengalaman menggeluti musikalisasi puisi bersama sanggarnya, Sanggar Matahari. Hasan Al Banna membahas ide dalam puisi. Drs. Irwinsyah Harahap, M.A berbagi pandangan akan seni dan kebudayaan dan pengalaman beliau dalam musikalisasi puisi. Tahan Perjuangan Manurung, S.Sn cenderung menjelaskan komposisi musik dalam musikalisasi puisi. Dan Ahmad Arief Tarigan, S.sn yang turut menjelaskan musikalisasi puisi ditinjau dari istilah dan metodenya.


Keterangan foto:

Para pemateri: Hasan Al Banna (Kiri), Tahan Perjuangan Manurung, S.Sn, H. Fredie Asri, dan Ahmad Arief Tarigan, S.sn dalam ”Workshop Musikalisasi Puisi” di USU, Jumat – Sabtu (18-19/ 12)

Seni rupa-rupanya telah kehilangan identitasnya. Demikian kalimat Drs. Irwansyah Harahap, M.A. Ya, perubahan besar-besaran telah terjadi pada seni belakangan ini. Zaman membawa kita pada suasana yang penuh kebaruan. Apresiasi terhadap seni berubah-ubah karena adanya revolusi pasar. Seni menjelma produk atau komoditi. Industrialisasi seni mengikis habis ide seni yang lebih dalam dan membuatnya menjadi pasaran. Esensi seni hilang ditelan zaman yang sempit dan membunuh kreatifitas orang-orang.
Memang, terdapat paradigma yang mengucilkan bidang kesenian belakangan ini. Memandang bidang kesenian sebagai suatu hal perlu dikesampingkan dan tidak dapat disejajarkan dengan disiplin ilmu lainnya. Sayangnya pandangan itu tumbuh subur di negara berkembang seperti Indonesia ketika negara-negara di Eropa justru melakukan hal sebaliknya.


Dari Komunitas Hingga Gelar Sastrawan

Omong-omong Sastra di Binjai
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Kediaman yang asri milik salah satu sastrawan Sumatera Utara, Saripuddin Lubis di Binjai, ternyata tak menjamin sebuah diskusi akan berlangsung dingin dan sejuk. Diskusi mengenai komunitas sastra mungkin tak akan ada habisnya. Pembicara, bahkan masing-masing peserta memiliki pendapat yang berbeda soal topik pembicaraan. Setidaknya hal itu akan terlihat pada ”Omong-omong Sastra” yang diadakan pada Minggu, 6 Maret 2011 sejak pukul 11.00 WIB. ”Omong-omong Sastra” merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan para sastrawan Medan (Sumatera Utara). Konon, wadah diskusi antar para sastrawan ini sudah berlangsung sejak 35 tahun yang lampau.



Keterangan foto:

Damiri Mahmud (kanan), Wahyu Wiji, Afrion dan Yulhasni dalam “Omong-omong Sastra” di Binjai.


Acara diskusi ini berlangsung secara periodik (tergantung waktu dan kesempatan) dari rumah ke rumah. Sejumlah sastrawan tampak hadir pada diskusi kali ini seperti; Damiri Mahmud, D. Rivai Harahap, Sulaiman Sambas, M. Raudah Jambak, Hasan Al Banna, Nasib TS, Norman Tamin, Idris Siregar, M. Yunus Rangkuti, Herni Fauziah serta beberapa penulis muda lainnya. Diskusi berlangsung sekitar 4 jam dan dimeriahkan juga dengan pertunjukan musikalisasi puisi yang dibawakan dengan sangat apik oleh siswa SMAN 2 Binjai.
Afrion ditunjuk forum sebagai pemandu dua pembicara: Yulhasni (pengamat sastra) dan Wahyu Wiji Astusti (penulis dan penggiat komunitas). Yulhasni menyodorkan tema komunitas sastra di Sumut. Selanjutnya, Wahyu Wiji Ayu banyak menyinggung topik sastra kontemporer. Kedua pembicara menyampaikan pemikirannya dengan apik meskipun lebih banyak membaca makalahnya hingga lembar terakhir. Diskusi yang berkembang selanjutnya lebih dititikberatkan pada masalah komunitas sastra.
Ya, Yulhasni lewat makalahnya mengurai satu kenyataan yang kemudian dianggap sebagai masalah. Komunitas sastra belakangan memang tengah berkembang dengan pesat di Sumatera Utara, terutama di beberapa kampus yang memiliki beberapa komunitas sekaligus. Beliau merasakan fakta bahwa komunitas sastra yang tersebar di Medan belakangan ini hanyalah sebagai wujud perayaan penciptaan karya dan berkumpulnya penulis sastra tanpa melakukan perubahan besar demi kemajuan ranah sastra Medan. Bagi Yulhasni, suatu kelompok kesusatraan sebenarnya dilahirkan untuk sebuah kelahiran baru bagi genre sastra itu sendiri. Beliau bernasihat kritis betapa sebaiknya komunitas sastra harus memiliki ideologi dan mencipta sesuai ideologi yang diusung. Dan perlunya komunitas-komunitas melakukanpenolakan hegemoni yang tidak sesuai.
Sebagai salah satu peserta diskusi, Dani Sukma A.S berpendapat lain. Dia menuduh pembicara melupakan hal yang paling mendasar tentang alasan seseorang memilih masuk ke dalam sebuah komunitas sastra. Tentu ingin mengetahui bagaimana cara menulis sastra yang baik dan bagaimana agar dapat mengembangkan kemampuan menulisnya. Pembentukan sebuah komunitas penulis kampus adalah juga sebuah upaya pembuktian bahwa seorang sarjana mampu menulis serta bersastra dan tidak hanya bergelut dengan bidang akademisi semata. Bayangkan, bagaimana ketika kemudian penulis pemula disodori dengan ideologi?
Damiri Mahmud lain pula. Damiri menyatakan bahwa inovasi pada ranah sastra tidak harus melalui gebrakan dan penemuan genre baru. Melainkan yang lebih penting adalah bagaimana seorang sastrawan dapat terus menulis dan memberikan pencerahan bagi semua orang tanpa harus terpatok pada genre penciptaan dan akhirnya melakukan kemunafikan.
Sementara itu, Wahyu dalam makalahnya menjelaskan ihwal puisi kontemporer yang belakangan marak dibicarakan dan ditulis oleh beberapa penyair muda. Secara pribadi Wahyu menjunjung tinggi kebebasan dalam menulis dan berekspresi. Meskipun begitu, banyak penulis muda lainnya masih merasa bahwa puisi konvensional lebih indah karena mudah dimengerti dan sederhana hingga pesan yang terkandung akan dapat ditangkap oleh pembaca. Dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) yang diketuainya, Wahyu menggiring anggotanya untuk terlebih dahulu menekuni proses penciptaan puisi konvensional.
Hakikatnya, kedua topik yang dibahas pada “Omong-omong Sastra” berkaitan erat. Pembahasan ‘kemeriahan’ komunitas sastra di Medan diharapkan melahirkan sebuah gebrakan baru atau bahkan genre baru dalam ranah kesusastraaan yang akhir-akhir ini dianggap monoton. Ulasan Wahyu tentang sastra kontemporer juga terkait langsung dalam kesemarakan kesastraan itu sendiri. Sastra kontemporer (dalam konteks kebaruan ideologi) itulah yang mungkin ditagih Yulhasni dari pena para penulis yang berkhidmat di komunitas-komunitas sastra di Medan yang berpusat di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU).
Kebebasan pada hakikatnya adalah milik semua orang. Juga milik setiap penulis, baik dari segi penyampain maupun dari segi isi. Besar harapan, kiranya para sastrawan tidak terlena akan kebebasan yang dimilikinya. Sehingga tidak semata-mata memamerkan keahlian dan kekreatifan yang luar biasa sehingga tak jarang sebuah puisi sama sekali tidak dapat diinterpretasi dengan mudah oleh para pembaca. Hal ini dapat dengan mudah terlihat. Bahkan para mahasiswa Jurusan Sastra akan mengalami kesulitan untuk memaknainya. Lantas bagaimana dengan para pembaca awam lainnya? Dan benarkah sudah tersedia banyak sastrawan yang mampu menjelaskan dengan benar akan makna yang sebenarnya dari puisi-puisi yang menyimpang tersebut?
Pada akhirnya tidak dapat dielakkan bahwa puisi-puisi kontemporer dengan permainan bahasa serta tipografi sedemikian rupa, terkadang justru menimbulkan kebingungan dan tentu saja akan ditinggalkan masyarakat. Yang lebih diperlukan bangsa kita pada saat ini adalah karya sastra yang sederhana, komunikatif, mudah dicerna dan tentu saja mengandung pesan-pesan pencerahan. Dengan demikian juga dapat menumbuh kembangkan minat mengapresiasi sastra oleh masyarakat luas.
Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Tentu saja kehadiran komunitas-komunitas penulis di Medan layaknya disambut baik, sebab dari komunitas-komunitas itulah diharapkan melahirkan para sastrawan yang berkarakter. Ideologi yang diharapkan tumbuh di setiap komunitas bisa saja makin kokoh seiring berjalannya waktu dan proses kreativitas anggota komunitas. Pun demikian, tidaklah sebuah komunitas diharuskan memiliki sebuah ideologi dalam menulis atau berkarya, karena justru akan membatasi perjalanan hasil sastra.
Namun, tidak seharusnya komunitas menjadi tempat bergantung para penulis sehingga akan membunuh kemandirian penulis itu sendiri. Kelak penulis yang sangat bergantung pada komunitasnya akan rikuh ketika harus terjun sendiri tanpa bantuan komunitas. Belenggu komunitas juga kian rapat karena pada akhirnya tak jarang penulis kurang bersosialisasi dan merasa eksklusif dengan komunitasnya. Seolah tak membutuhkan dunia lain di luar komunitas. Komunitas agaknya bukan sarana pembaptisan bagi calon sastrawan. Seperti halnya penyataan ekstrem Yulhasni yang mengatakan bahwa TBSU juga menjelma sebagai arena baptis seseorang menjadi sastrawan.
Begitupun, kedua pemikiran demikian di atas tetap bisa didebat. Terkhusus pernyataan Yulhasni yang dituding beberapa peserta diskusi berlebihan. Betapa tidak? Banyak orang yang berkunjung ke TBSU untuk masuk ke proses pembelajaran aneka seni, terutama sastra.
Namun, dangkal juga jika kemudian pernyataan Yulhasni ditelan begitu saja. Manalah ada asap tanpa api? Yulhasni tak mungkin berpendapat sedemikian rupa tanpa bukti-bukti dan kenyataan yang ditemui di lapangan sebab beliau juga termasuk orang yang sering ”singgah” di TBSU. Apakah memang terdapat banyak orang yang mengakui diri sebagai sastrawan setelah sering berkunjung dan berdiskusi ke TBSU? Boleh jadi!
Segelintir orang yang terganggu pernyataan kontroversial tersebut setidaknya haruslah bertanya pada diri sendiri. Selanjutnya mencoba memberikan penyanggahan dengan menelurkan karya-karya nyata dan tidak hanya berlalu lalang di TBSU semata.
Demikianlah, ”Omong-omong Sastra” kali ini benar-benar menggiring kita untuk menjejaki ranah berpikir yang belum pernah kita injak sebelumnya.

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
di FBS Unimed

- Harian Waspada, Minggu, 13 Maret 2011

Kemelut Yang Merubungi Telinga

Visualisasi Puisi Di TBSU
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Tidak hanya melahirkan banyak penderitaan dan kesedihan, ternyata berbagai kemelut dan bencana yang terjadi di negara kita juga dapat memekakkan telinga. Setidaknya hal tersebutlah yang terasa di menit-menit awal pertunjukan ”Visualisasi Puisi” oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Medan, hingga melumpuhkan kenyamanan telinga sebagian besar penonton. Dentuman soundsystem nampaknya terlampau perkasa meskipun gedung utama merupakan arena terbesar di Taman Budaya Sumatera Utara.



”Visulisasi Puisi” yang berlangsung pada Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Rabu, 15 Desember 2010 lalu dipentaskan dengan latar panggung yang cukup megah berupaya mengajak penonton untuk sejenak merenungkan dan menyadari berbagai persoalan yang melanda negeri ini. Pertunjukan ”Visulisasi Puisi” dibuka dengan puisi Chairil Anwar berjudul ”Persetujuan dengan Bung Karno”, dilanjutkan dengan beberapa puisi karya Idris Pasaribu, Juhendri Chaniago, Sakinah Annisa Mariz, Sidrata Emha, H. Ahmadun Yosi Herfanda, dan Antilan Purba.
Melalui visualisasi seperti ini, selain menyaksikan penyampaian yang berbeda dalam berpuisi—kerpa dalam bentuk deklamasi atau baca puisi—,kita dapat menyaksikan sejarah kecil pergolakan serta rentetan bencana yang belakangan agaknya sering berkunjung ke negara kita. Sejarah yang dirangkum lewat lirik-lirik tajam, puitis, pedih, ditingkahi pola gerak dan tari serta musik dan tentu saja mengandung pesan nasionalisme yang kental dan pengaduan pilu kepada Sang Pencipta alam.


Minggu, 26 Juni 2011

Sekali ini saja. Tuhan, Berjanjilah.......


Belajar dari jalan-jalan yang menikung
Dan dari apa saja yang tak lurus-lurus saja dalam hidup ini

Baru saja kupanjatkan doa,
Untuk Tuhan menyampaikan semua rasa rinduku demi melihatmu dan berbincang denganmu
Cerita apa yang tak kubagi?
Riang sekecil apa yang tak hendak kuceritakan?
Keluhan seperti apa yang akan membuat kau menutup telinga?
Diamku yang sebagaimana yang tak kau mengerti?
Dan berulangkali kau tinggalkan aku sendiri, sebab kau paham, kali ini tangisku bukanlah jangkauanmu

Sakit sesakit apa yang membuat kau tetap terjaga hingga mentari menari dan lelap lagi?
Sepatah apa aku menyerah?
Langkah beratku yang mana yang tak kau tuntun jua?

Perih berpuluh jarum yang menusuk kulit,
Tak sepadan dengan nanar mataku memandangimu lelah menungguku melangkah

Sejak beberapa waktu lalu aku membaca lukisan-lukisan tak nyata pada pinggir-pinggir hujan
Pada petang yang menjerang
Membawa gelap ke pangkuan purnama

Siklus hidup kita begitu-begitu saja
Kita lahir
Hidup
Tersenyum
Menangis
Tertawa

Bahagia, derita adalah dua sisi yang tetap bersama

Dan akhirnya menemui tiada

Kengerian akan makna penghabisan bukanlah esensi hidup yang paling pantas untuk ditakutkan
Tapi, kesiaan tak terelakkan, meski diluar kendaliku,
Adalah alasan yang kerap membuat mengutuk diri sendiri

Aku saja
Aku lelah
Jangan mendahului

Berjanjilah.....

Ibu

Terus mencari meski esok mentari pergi, Sudut tepi menjelang abadi itu cuma mimpi

Maaf karena aku bukanlah filsuf yang kata-katanya senantiasa bijaksana

Maaf untuk tidak menjadi malaikat yang menyampaikan pesan-pesan indah
Sedang aku, sarkasme nyata

Maaf juga, jika puisiku kehilangan puitisnya
Cerminan diri dengan ego yang begitu tinggi
Dan belum lagi bisa memanusiakan manusia dengan barisan kata

Kontemplasiku memang seputar rasa sakit dan pedar duka
Tapi aku bukanlah
Seniman kata yang sakit jiwa

Kucipta puisi berakar pisau
Jangan kau eja bila tak mau luka

Baiklah
Itu saja

Minggu, 13 Februari 2011

Sepi itu antara mati dan tidak mati. Hidup!


Apa yang membuatku diam?
Tentu saja karena merasa tak perlu kita bicara

Apa yang membuatku menjauh, justru ketika orang-orang mendekat?
Karena mereka buta, tak akan menerima ada adanya
Yang tertangkap mata hanyalah indah
Seolah sempurna
Yang sebenarnya adalah bongkahan rapuh yang menunggu luruh

Aku benci penolakan
Baiknya aku yang melakukan
Daripada ditinggalkan?
Melukai lebih baik ketimbang terluka
Maaf saja, seluruh tubuh penuh gores berdarah

Apa yang membuatku menutup telinga dengan nada?
Kalian terlalu banyak memuntahkan sampah
Semakin banyak tau, semakin kotor aku

Apa yang membuat aku mengunci rapat-rapat pintu sepanjang hari?
Basa-basi mereka itu itu saja sepanjang waktu
Basi

Apa yang membuat aku ketakutan?
Karena sendiri dan kesepian yang menjadi pilihan melahirkan kegelisahan baru
Bukannya tenang

Apa yang membuat aku menangis tertahan?
Ketika rindu
Ketika kehilangan
Ketika sakit dan membayangkan mati
Tentunya aku belum punya alasan yang kuat untuk membenarkan pilihanku untuk sendiri di sudut kamar
Diam
Menikmati nada
Tersenyum

Kiranya aku sedang mencari sebuah pembenaran
Yang terkadang terasa kupaksakan

Minggu, 19 Desember 2010

Kupinjamkan kau cermin, Jangan lupa kembalikan

Kupinjamkan sajalah kau cermin
Biar bisa akau lihat coreng moreng di wajahmu
Tak kan kentara di meja rias mewah
Yang ada lima mungkin di tiap rumah kau punya

Kupinjamkan sajalah kau cermin
Agar terlihat matamu
Rupa yang serupa iblis melahap semua benda tak bersisa
Mulutmu tak ubahnya gua
Hingga tiada cukupnya kau telan yang tak seharusnya

Langkah sepatumu akan perdengarkan jerit lapar kami
Baju mahalmu bertahtahkan air mata darah derita kaum papa
Mobil mewahmu, jelmaan buku dan pena yang tak pernah di jamah
Anak kecil yang berdendang di lampu merah
Rumahmu akan ujarkan pekikan sakit tak terobati sejuta orang tak berharta

Kupinjamkan kau cermin, jangan lupa kembalikan
Satu-satunya yang kupunya
Setidaknya akan memuatmu menemukan diri yang hakiki

Kupinjamkan kau cermin!

Kamis, 21 Oktober 2010

PARA DRAMATIK

Mereka bicara tentang rasa
Sakit
Ragu
Dan semua kroni yang menyertainya

Tak ada sudut keyakinan pada matanya

Atau kondisi akhirnya memaksa diri menipu diri sendiri

Kau bingung?
Atau pura-pura bingung?

Kau ragu?
Atau pura-pura ragu?


Apakah memang kau bicara tanpa hiraukan perasaan orang lain?

Naïf, kau naïf

Kau kan tinggalkan ketika kau tak dapati dia lagi?

Melankoli kalian palsu
Rasa kasihan kalian semu

Lagu kalian membuatku jemu


Para dramatik!!!

Munafik!!

Tunjukkan wajah asli kalian!!!

Senin, 24 Mei 2010

KOMPLEKSITAS

Tak terkata lagi
Tampaknya mudah karena kau tak berasa bagaimana ku cerca

Sulit
Sungguh sulit

Sejak aku menyadari semua akan memasungku
Menjadi sosok dengan sejuta beban tak tertahan

Sakit
Tubuhku tak sanggup menahan beban serupa rajam menghantam!
Berkali-kali kusaksikan diriku mati
Namun entah kenapa mata tetap menyapa bayang
Demikian juga paru tetap menghela hampa di udara


Kurasa ada lubang besar dalam hatiku
Entah beberapa lama saat aku tak lagi bisa temukan
Dengan apa akan kutimbun cela di dada

Aku sadar
Sesadar-sadarnya
Hingga kadang berasa malu pada diri sendiri
Bukan waktu yang tepat lagi bagiku untuk berlaku manja
dan mencari siapa bersalah

atau aku enggan akui diriku salah

mungkin ya
mungkin tidak

kukataan sekali lagi!
Jangan memvonis seakan aku manusia manja yang pelihara rasa gila dalam jiwa

Sebab kau tak rasa!
Sebab kau tak reka!
Dan aku tak pinta kau berkata!

Tak berbeda dengan siapa saja
Pun tak ingin ungkap ketakutan tak beralasan

Lantas,
Bagaimana jika ternyata ada banyak sebabnya?

Sebab diri gelisah
Sebab diri merasa tak temukan esensi berikat antara impuls peristiwa
Sebab terasa semua menjauh dari rengkuhku

Tak ayal kalian kerap ciptakan kecewa tak berkira dalam ingatku

Ini diri
Dengan bola api kemarahan di kedua belah tangan
Dengan rasa benci tertekan
Dengan kata yang mengedepankan ketegasan yang mereka kira berlebihan
Dengan laku kaku, sebab tak ku rasa perlu bicara jika tak ada perlunya
Basa-basi kini menjijikkan

Aku kehilangan senyumku

Bibirku kelu
Tak sanggup bentuk lekukan kecil yang mereka sebut senyuman
Pun jika kadang tak serupa makna dalam bayangan
Siapa peduli
Dalam otak mereka adalah yang indah dan baik pula

Sunyi sesunyi mati
Dingin seakan beku
Hampa hingga mati rasa
Sakit sampai ingin akhiri

Tak ada
Tak akan ada orang mau dengarkan
Bahwa aku tak suka sendirian


Mereka kan bicara
Seakan aku orang gila yang coba bersuara tentang kewarasannya
Menjerit-jerit tak terkendali
Siapa peduli?

Orang-orang sibuk
Teman tak lagi sosok yang baik untuk sekedar mendengarkan
Terlebih menenangkan


Mungkin akan disebut sebagai orang yang terjebak dalam kebodohannya sendiri

Ah, entahlah

Sekali lagi

Siapa peduli akan kompleksitas ini?

Kau peduli?

Tidak!!!



Siapa peduli…..........?

Minggu, 27 Desember 2009

1 hal, kusebut dia kebencian

"tapi dia g mw bhas kamu..."

sbris kata yg bsa meleburkan kcamuk di dada

tak terelak kini remuk redam berasa

menambah 0bjek dgn p0sisi kebencian

membaur brsama darah d skujur tubuh

apakah kw ktakn jg kta2 itu untuknya?!
apakah kw nyanyikan jg lgu itu untuknya?!
apakah kw janjikan juga smua mimpi itu padanya?!


hei,
katakanlah..
bcaralah..
beritahu aq wlwpn skit rasaku

sadari kw menciptaku mnjdi sosok dgn penuh kebencian!
dgn b0ngkahan marah yg siap kulempar pd siapa saja mski tak seharusnya!


dn apakah hrus aku hdup dgn sluruh kbncian ini besertaku?
atw hrus ku tertawakan saja agar tak bgtu menghancurkan?

ku tertawakan demi meredam?

ku tertawakan agar tak mer0b0hkan?


dn agar aq tak selalu dlm pesakitan...
maka bnar2 akn ku tertawakan...

sampai hilang ditikam jam,
atau kubawa mati sekalian...

Rabu, 05 Agustus 2009

Tak Terlihat

sajak mati mengutuk bumi
manakala duka paling nestapa
kau t0reh dengan pena darahmu
ini mungkin dendam yang terucapkan
kebekuan tak temukan jalan peluruhan
hisap seluruhku
lihat
lihat
dia ukir sajak dendam di dinding zaman yang tak perdulikan
ucap sinis sang pujangga
ah,apalah artinya...
mega tetaplah luas
bumi bukannya setapak
yang dendam hanya secuil dr seruah
meski yang pasti ini ungkapan jiwa

Antara Kita

nyatakah begitu rendah?
manakala aku sebagai lakon kakunya...?
benarkah begitu hina?
diantara kita bertiga,
siapakah yg paling salah?
kau...
dia...
atau aku...?
nyatakah begitu rendah?

aku resah,
tak kutemukan kata-kata indah untuk benarkannya....

Minggu, 12 Juli 2009

Suatu Akhir

AKHIR



Semua pergi begitu saja,
seakan ruang ini tak pernah ada
aku,
kau,
dan
mereka

kita..........

takkan pernah tau apa yang ada disana,
hingga saat menutup mata.................

Rabu, 10 Juni 2009

Bom Waktu : Bahasa Indonesia Dipandang Sebelah Mata

“ Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia “

Bahasa Indonesia diikrarkan dan disebut sebagai bahasa persatuan, jati diri dan citra bangsa Indonesia. Akan tetapi, pada kenyataannya Bahasa Indonesia kerap kali dipandang sebelah mata oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia, kecuali segelintir pemerhati bahasa. Disadari atau tidak, kerusakan bahasa terjadi di berbagai lapisan dan elemen masyarakat. Kerusakan bahasa dapat ditemui dalam berbagai bidang. Baik dalam bidang ekonomi, politik, bahkan pendidikan sekalipun.

Bahasa Indonesai memiliki sejarah panjang, bahkan lebih panjang dari usia negara ini. Bahasa Indonesia lahir pada 2 Mei 1926 di Batavia pada saat Kongres Pemuda I diadakan. Pada saat itu bahasa Indonesia untuk pertama kali disebut dan jadi bahan perdebatan para pemuda Indonesia. Jika dihitung, maka usia bahasa Indonesia sudah mencapai 82 tahun. Bahasa Indonesia lama sendiri berasal dari bahasa Melayu. Sedangkan Bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang berasal dari bahasa Melayu, bahasa asing dan bahasa daerah. Sejak dicetuskannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, lalu UUD 1945 menetapkannya sebagai bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hampir seluruh bidang masyarakat memandang sebelah mata terhadap bahasa Indonesia. Kerusakan bahasa ditemukan dimana-mana, baik dalam penggunaanya secara lisan maupun tulisan. Hal ini didapati pada bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan banyak bidang lainnya. Dalam bidang ekonomi misalanya, banyak sekali didapati iklan-iklan memakai penggunaan bahasa Indonesia yang salah yang beralasan untuk “ mengikuti selera pasar “. Dan bila ditinjau lebih lanjut, sepertinya akan dapatmenghilangkan kosakata asli. Pada bidang sosial kerap kali kita temukan kesalan dalam penggunaan bahasa. Media televisi sebagai sarana penyaji informasi dan hiburan kepada masyarakat sering sekali menggunakan ejaan, kosa kata dan tata kalimat yang salah. Padahal tentu kita sama-sama mengetahui bahwa media ini adalah media yang sanagt dekat dengan anak. Maka terjadilah hal yang sangat buruk, yaitu sang anak mendapatkan pendidikan bahasa yang salah. Seharusnya sejak dini anak harus diajarkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik benar. Pada bidang politik, para pejabat dengan luwesnya menggunakan bahasa asing dalam berbagai situasi. Entah mereka sadari atau tidak, mereka telah melakukan perusakan terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sendiri masih dalam tahap pembinaan dan perkembangan. Alangkah buruknya jika kedudukannya tergeser oleh bahasa asing. Sebaiknya para pejabat tidak menggunakan bahasa asing dalam komunikasi mereka terlebih terhadap masyarakat awam, sebab penggunaannya pada akhirnya akan menimbulkan kebingungan bahkan kesalah pahaman dalam penafsiran. Dalam bidang pendidikan sendiri, bahasa Indonesia dianggap sebagai persyaratan kelulusan semata. Sebab mata pelajaran ini adalah mata pelajaran pokok pada setiap jenjang pendidikan mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Para siswa hanya terpacu untuk mendapatkan nilai yang bagus pada maata pelajaran ini, namun dalam hal penguasaan pemakaian bahasa Indonesia yang baiak dan benar kerap kali terlupakan. Hal ini dipicu oleh kurikulum sekolah yang hanya menekankan pembelajaran pada ilmu kebahasaan dan mengenyampingkan pengajaran berbahasa yang baik dan benar dalam keseharian para siswa.

Banyak faktor yang membuat masyarakat memandang bahasa Indonesia dengan sebelah mata. Yang pertama, masyarakat merasa tidak perlu untuk mempelajari bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mereka merasa pemakaian bahasa seperti itu ( bahasa baku ) hanya akan merepotkan dan cenderung menimbulkan kesan kaku pada proses komunikasi ( pemikiran masyarakat awam ). Yang kedua, masyarakat menilai bahwa bahasa Indonesia tidak memiliki nilai ekonomi seperti halnya bahasa asing ( contoh : bahasa Inggris ). Kenyataan tersebut ditemui ketika masyarakat berhadapan dengan dunia pekerjaan dimana banyak perusahaan asing yang mengutamakan penguasaan bahasa asing tinimbang bahasa Indonesia. Kita tidak akan menjumpai tes kecakapan berbahasa Indonesia saat test atau wawancara melamar pekerjaan, melainkan tes kecakapan berbahasa asing. Yang ketiga, masyarakat telah “ asyik “ dengan penggunaan bahasa daerah dengan komunitas sosialnya. Sehingga penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukanlah suatu keharusan. Dalam hal ini bahkan mereka menganggap pembelajaran dan penggunaan bahasa yang baik dan benar cenderung merepotkan.

Tidak mengherankan jika suatu waktu, seseorang yang merasa “ tidak berkepentingan “ dengan bahasa Indonesia melontarkan perkataan pertanda memandang remeh terhadap orang-orang yang bergelut dalam bidang akdemik atau pembelajaran Bahasa Indonesia . Dengan mudah akan muncul perkataan “ bahasa Indonesia sudah dipelajari sejak lahir, untuk apa diperdalam lagi ? “. Demikian pemikiran kebanyakan orang yang saya temui. Banyak lagi macam-macam perkataan dengan nada yang sama saya dengar ketika mereka tahu saya belajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sungguh pemikiran yang sangat dangkal sebab mereka hanya mengetahui dan mengenal bahasa Indonesia sebatas mereka dapat berkomunikasi dengan orang lain secara bebas dan lancar. Tentu saja tanpa berurusan dengan tata bahasa baku, ejaan yang benar, kosa kata yang tepat dan banyak lagi aturan dalam berbahasa baik secara lisan maupun tulisan. Padahal, aturan ketata bahasaan tersebut harus tetap dilestarikan dan dijaga agar kerusakan lebih parah pada bahasa Indonesia dapat ditanggulangi. Atau bahkan dengan menekankan pengajaran berbahasa Indoinesia dengan baik dan benar pada generasi muda mungkin saja kerusakan pada bahasa Indonesia dapat ditanggulangi.

Kesalahan berbahasa adalah kesalahan yang dianggap lumrah dan tidak akan mendapat hukuman. Seseorang yang melakukan kesalahan berbahasa dalam komunitas sosialnya yang “ berpaham “ sama akan terus-menerus melakukan kesalahan yang sama. Tidak sama dengan tindakan kriminal, kesalahan dalam berbahasa tidak akan mendapat sanksi yang konkret. Kita tidak akan dipenjara seperti halnya para koruptor manakala kita melakukan kesalahan dalam berbahasa baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Hal demikian tentu saja semakin memicu kerusakan bahasa disana-sini.

Bahasa menunjukkan bangsa. Kalimat tersebut dapat menjabarkan banyak hal. Bermacam-macam pemikiran timbul di benak kita. Beberapa diantaranya yaitu bahasa sebagai identitas bangsa, sarana pencitraan bangsa, serta jati diri suatu bangsa. Dimana dalam hal ini, bahasa Indonesia yang kita usung sebagai bahasa persatuan merupakan pencitraan diri kita di mata dunia. Mengutip pendapat Anderson bahwa ( Imagined communities : reflections on the origins and sread of nationalism, 1991 ) atau “ komunitas terbayang “. Maka jelas sekali dikatakan bahwa bahasa merupakan alat pemersatu dan pencitraan bangsa.

Kenyataan tak seindah yang kita bayangkan. Walau diusung dan diikrarkan sebagai bahasa persatuan dan citra diri di mata dunia, bahasa Indonesia dianggap remeh dan mengalami kerusakan di sana-sini. Jauh dari makna dihargai, bahasa Indonesia justru dipandang sebelah mata. Sebagian besar masyarakat terkesan tidak ambil pusing dengan masalah ini. Sementara itu, secara perlahan-lahan bahasa Indonesia mengalami “ kelunturan “ karena ketidak sadaran, kebodohan, ketidak pedulian, atau bahkan kemalasan kita sendiri. Lantas, setelah menemukan “ bom waktu “ ini, apa yang akan kita lakukan ? Apakah kita akan tetap memandang bahasa Indonesia sebelah mata ?