
Beberapa tulisan berupa artikel bahasa, esai pertunjukan dan puisi yang saya tulis. Bukan tulisan yang cukup bagus, sehingga butuh komentar dari pembaca. Terimakasih telah berkunjung !
Kamis, 15 Desember 2011
Kritik Tajam Lewat Lakon Komedi

Menyingkap Kesepian Apresiasi

Dari Komunitas Hingga Gelar Sastrawan

Kemelut Yang Merubungi Telinga

Minggu, 26 Juni 2011
Sekali ini saja. Tuhan, Berjanjilah.......
Belajar dari jalan-jalan yang menikung
Dan dari apa saja yang tak lurus-lurus saja dalam hidup ini
Baru saja kupanjatkan doa,
Untuk Tuhan menyampaikan semua rasa rinduku demi melihatmu dan berbincang denganmu
Cerita apa yang tak kubagi?
Riang sekecil apa yang tak hendak kuceritakan?
Keluhan seperti apa yang akan membuat kau menutup telinga?
Diamku yang sebagaimana yang tak kau mengerti?
Dan berulangkali kau tinggalkan aku sendiri, sebab kau paham, kali ini tangisku bukanlah jangkauanmu
Sakit sesakit apa yang membuat kau tetap terjaga hingga mentari menari dan lelap lagi?
Sepatah apa aku menyerah?
Langkah beratku yang mana yang tak kau tuntun jua?
Perih berpuluh jarum yang menusuk kulit,
Tak sepadan dengan nanar mataku memandangimu lelah menungguku melangkah
Sejak beberapa waktu lalu aku membaca lukisan-lukisan tak nyata pada pinggir-pinggir hujan
Pada petang yang menjerang
Membawa gelap ke pangkuan purnama
Siklus hidup kita begitu-begitu saja
Kita lahir
Hidup
Tersenyum
Menangis
Tertawa
Bahagia, derita adalah dua sisi yang tetap bersama
Dan akhirnya menemui tiada
Kengerian akan makna penghabisan bukanlah esensi hidup yang paling pantas untuk ditakutkan
Tapi, kesiaan tak terelakkan, meski diluar kendaliku,
Adalah alasan yang kerap membuat mengutuk diri sendiri
Aku saja
Aku lelah
Jangan mendahului
Berjanjilah.....
Ibu
Terus mencari meski esok mentari pergi, Sudut tepi menjelang abadi itu cuma mimpi
Maaf untuk tidak menjadi malaikat yang menyampaikan pesan-pesan indah
Sedang aku, sarkasme nyata
Maaf juga, jika puisiku kehilangan puitisnya
Cerminan diri dengan ego yang begitu tinggi
Dan belum lagi bisa memanusiakan manusia dengan barisan kata
Kontemplasiku memang seputar rasa sakit dan pedar duka
Tapi aku bukanlah
Seniman kata yang sakit jiwa
Kucipta puisi berakar pisau
Jangan kau eja bila tak mau luka
Baiklah
Itu saja
Minggu, 13 Februari 2011
Sepi itu antara mati dan tidak mati. Hidup!
Apa yang membuatku diam?
Tentu saja karena merasa tak perlu kita bicara
Apa yang membuatku menjauh, justru ketika orang-orang mendekat?
Karena mereka buta, tak akan menerima ada adanya
Yang tertangkap mata hanyalah indah
Seolah sempurna
Yang sebenarnya adalah bongkahan rapuh yang menunggu luruh
Aku benci penolakan
Baiknya aku yang melakukan
Daripada ditinggalkan?
Melukai lebih baik ketimbang terluka
Maaf saja, seluruh tubuh penuh gores berdarah
Apa yang membuatku menutup telinga dengan nada?
Kalian terlalu banyak memuntahkan sampah
Semakin banyak tau, semakin kotor aku
Apa yang membuat aku mengunci rapat-rapat pintu sepanjang hari?
Basa-basi mereka itu itu saja sepanjang waktu
Basi
Apa yang membuat aku ketakutan?
Karena sendiri dan kesepian yang menjadi pilihan melahirkan kegelisahan baru
Bukannya tenang
Apa yang membuat aku menangis tertahan?
Ketika rindu
Ketika kehilangan
Ketika sakit dan membayangkan mati
Tentunya aku belum punya alasan yang kuat untuk membenarkan pilihanku untuk sendiri di sudut kamar
Diam
Menikmati nada
Tersenyum
Kiranya aku sedang mencari sebuah pembenaran
Yang terkadang terasa kupaksakan
Minggu, 19 Desember 2010
Kupinjamkan kau cermin, Jangan lupa kembalikan
Biar bisa akau lihat coreng moreng di wajahmu
Tak kan kentara di meja rias mewah
Yang ada lima mungkin di tiap rumah kau punya
Kupinjamkan sajalah kau cermin
Agar terlihat matamu
Rupa yang serupa iblis melahap semua benda tak bersisa
Mulutmu tak ubahnya gua
Hingga tiada cukupnya kau telan yang tak seharusnya
Langkah sepatumu akan perdengarkan jerit lapar kami
Baju mahalmu bertahtahkan air mata darah derita kaum papa
Mobil mewahmu, jelmaan buku dan pena yang tak pernah di jamah
Anak kecil yang berdendang di lampu merah
Rumahmu akan ujarkan pekikan sakit tak terobati sejuta orang tak berharta
Kupinjamkan kau cermin, jangan lupa kembalikan
Satu-satunya yang kupunya
Setidaknya akan memuatmu menemukan diri yang hakiki
Kupinjamkan kau cermin!
Kamis, 21 Oktober 2010
PARA DRAMATIK
Sakit
Ragu
Dan semua kroni yang menyertainya
Tak ada sudut keyakinan pada matanya
Atau kondisi akhirnya memaksa diri menipu diri sendiri
Kau bingung?
Atau pura-pura bingung?
Kau ragu?
Atau pura-pura ragu?
Apakah memang kau bicara tanpa hiraukan perasaan orang lain?
Naïf, kau naïf
Kau kan tinggalkan ketika kau tak dapati dia lagi?
Melankoli kalian palsu
Rasa kasihan kalian semu
Lagu kalian membuatku jemu
Para dramatik!!!
Munafik!!
Tunjukkan wajah asli kalian!!!
Senin, 24 Mei 2010
KOMPLEKSITAS
Tampaknya mudah karena kau tak berasa bagaimana ku cerca
Sulit
Sungguh sulit
Sejak aku menyadari semua akan memasungku
Menjadi sosok dengan sejuta beban tak tertahan
Sakit
Tubuhku tak sanggup menahan beban serupa rajam menghantam!
Berkali-kali kusaksikan diriku mati
Namun entah kenapa mata tetap menyapa bayang
Demikian juga paru tetap menghela hampa di udara
Kurasa ada lubang besar dalam hatiku
Entah beberapa lama saat aku tak lagi bisa temukan
Dengan apa akan kutimbun cela di dada
Aku sadar
Sesadar-sadarnya
Hingga kadang berasa malu pada diri sendiri
Bukan waktu yang tepat lagi bagiku untuk berlaku manja
dan mencari siapa bersalah
atau aku enggan akui diriku salah
mungkin ya
mungkin tidak
kukataan sekali lagi!
Jangan memvonis seakan aku manusia manja yang pelihara rasa gila dalam jiwa
Sebab kau tak rasa!
Sebab kau tak reka!
Dan aku tak pinta kau berkata!
Tak berbeda dengan siapa saja
Pun tak ingin ungkap ketakutan tak beralasan
Lantas,
Bagaimana jika ternyata ada banyak sebabnya?
Sebab diri gelisah
Sebab diri merasa tak temukan esensi berikat antara impuls peristiwa
Sebab terasa semua menjauh dari rengkuhku
Tak ayal kalian kerap ciptakan kecewa tak berkira dalam ingatku
Ini diri
Dengan bola api kemarahan di kedua belah tangan
Dengan rasa benci tertekan
Dengan kata yang mengedepankan ketegasan yang mereka kira berlebihan
Dengan laku kaku, sebab tak ku rasa perlu bicara jika tak ada perlunya
Basa-basi kini menjijikkan
Aku kehilangan senyumku
Bibirku kelu
Tak sanggup bentuk lekukan kecil yang mereka sebut senyuman
Pun jika kadang tak serupa makna dalam bayangan
Siapa peduli
Dalam otak mereka adalah yang indah dan baik pula
Sunyi sesunyi mati
Dingin seakan beku
Hampa hingga mati rasa
Sakit sampai ingin akhiri
Tak ada
Tak akan ada orang mau dengarkan
Bahwa aku tak suka sendirian
Mereka kan bicara
Seakan aku orang gila yang coba bersuara tentang kewarasannya
Menjerit-jerit tak terkendali
Siapa peduli?
Orang-orang sibuk
Teman tak lagi sosok yang baik untuk sekedar mendengarkan
Terlebih menenangkan
Mungkin akan disebut sebagai orang yang terjebak dalam kebodohannya sendiri
Ah, entahlah
Sekali lagi
Siapa peduli akan kompleksitas ini?
Kau peduli?
Tidak!!!
Siapa peduli…..........?
Minggu, 27 Desember 2009
1 hal, kusebut dia kebencian
sbris kata yg bsa meleburkan kcamuk di dada
tak terelak kini remuk redam berasa
menambah 0bjek dgn p0sisi kebencian
membaur brsama darah d skujur tubuh
apakah kw ktakn jg kta2 itu untuknya?!
apakah kw nyanyikan jg lgu itu untuknya?!
apakah kw janjikan juga smua mimpi itu padanya?!
hei,
katakanlah..
bcaralah..
beritahu aq wlwpn skit rasaku
sadari kw menciptaku mnjdi sosok dgn penuh kebencian!
dgn b0ngkahan marah yg siap kulempar pd siapa saja mski tak seharusnya!
dn apakah hrus aku hdup dgn sluruh kbncian ini besertaku?
atw hrus ku tertawakan saja agar tak bgtu menghancurkan?
ku tertawakan demi meredam?
ku tertawakan agar tak mer0b0hkan?
dn agar aq tak selalu dlm pesakitan...
maka bnar2 akn ku tertawakan...
sampai hilang ditikam jam,
atau kubawa mati sekalian...
Rabu, 05 Agustus 2009
Tak Terlihat
manakala duka paling nestapa
kau t0reh dengan pena darahmu
ini mungkin dendam yang terucapkan
kebekuan tak temukan jalan peluruhan
hisap seluruhku
lihat
lihat
dia ukir sajak dendam di dinding zaman yang tak perdulikan
ucap sinis sang pujangga
ah,apalah artinya...
mega tetaplah luas
bumi bukannya setapak
yang dendam hanya secuil dr seruah
meski yang pasti ini ungkapan jiwa
Antara Kita
manakala aku sebagai lakon kakunya...?
benarkah begitu hina?
diantara kita bertiga,
siapakah yg paling salah?
kau...
dia...
atau aku...?
nyatakah begitu rendah?
aku resah,
tak kutemukan kata-kata indah untuk benarkannya....
Minggu, 12 Juli 2009
Suatu Akhir
Semua pergi begitu saja,
seakan ruang ini tak pernah ada
aku,
kau,
dan
mereka
kita..........
takkan pernah tau apa yang ada disana,
hingga saat menutup mata.................
Rabu, 10 Juni 2009
Bom Waktu : Bahasa Indonesia Dipandang Sebelah Mata
“ Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia “
Bahasa Indonesia diikrarkan dan disebut sebagai bahasa persatuan, jati diri dan citra bangsa
Bahasa Indonesai memiliki sejarah panjang, bahkan lebih panjang dari usia negara ini. Bahasa Indonesia lahir pada 2 Mei 1926 di Batavia pada saat Kongres Pemuda I diadakan. Pada saat itu bahasa Indonesia untuk pertama kali disebut dan jadi bahan perdebatan para pemuda
Hampir seluruh bidang masyarakat memandang sebelah mata terhadap bahasa
Banyak faktor yang membuat masyarakat memandang bahasa Indonesia dengan sebelah mata. Yang pertama, masyarakat merasa tidak perlu untuk mempelajari bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mereka merasa pemakaian bahasa seperti itu ( bahasa
Tidak mengherankan jika suatu waktu, seseorang yang merasa “ tidak berkepentingan “ dengan bahasa Indonesia melontarkan perkataan pertanda memandang remeh terhadap orang-orang yang bergelut dalam bidang akdemik atau pembelajaran Bahasa Indonesia . Dengan mudah akan muncul perkataan “ bahasa Indonesia sudah dipelajari sejak lahir, untuk apa diperdalam lagi ? “. Demikian pemikiran kebanyakan orang yang saya temui. Banyak lagi macam-macam perkataan dengan nada yang sama saya dengar ketika mereka tahu saya belajar di Jurusan Bahasa dan Sastra
Kesalahan berbahasa adalah kesalahan yang dianggap lumrah dan tidak akan mendapat hukuman. Seseorang yang melakukan kesalahan berbahasa dalam komunitas sosialnya yang “ berpaham “ sama akan terus-menerus melakukan kesalahan yang sama. Tidak sama dengan tindakan kriminal, kesalahan dalam berbahasa tidak akan mendapat sanksi yang konkret. Kita tidak akan dipenjara seperti halnya para koruptor manakala kita melakukan kesalahan dalam berbahasa baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Hal demikian tentu saja semakin memicu kerusakan bahasa disana-sini.
Bahasa menunjukkan bangsa. Kalimat tersebut dapat menjabarkan banyak hal. Bermacam-macam pemikiran timbul di benak kita. Beberapa diantaranya yaitu bahasa sebagai identitas bangsa, sarana pencitraan bangsa, serta jati diri suatu bangsa. Dimana dalam hal ini, bahasa Indonesia yang kita usung sebagai bahasa persatuan merupakan pencitraan diri kita di mata dunia. Mengutip pendapat
Kenyataan tak seindah yang kita bayangkan. Walau diusung dan diikrarkan sebagai bahasa persatuan dan citra diri di mata dunia, bahasa Indonesia dianggap remeh dan mengalami kerusakan di sana-sini. Jauh dari makna dihargai, bahasa Indonesia justru dipandang sebelah mata. Sebagian besar masyarakat terkesan tidak ambil pusing dengan masalah ini. Sementara itu, secara perlahan-lahan bahasa Indonesia mengalami “ kelunturan “ karena ketidak sadaran, kebodohan, ketidak pedulian, atau bahkan kemalasan kita sendiri. Lantas, setelah menemukan “ bom waktu “ ini, apa yang akan kita lakukan ? Apakah kita akan tetap memandang bahasa Indonesia sebelah mata ?