Senin, 18 Maret 2013

Gempita Kuasa

Layar kaca riuh
Akan segala macam perdebatan
Tentang siapa benar, siapa salah
Propaganda tersembunyi di sela
Tawa dan komentar yang membusungkan dada sendiri

Merdeka atau mati?
Sekarat!
Nyaris tercekik tangan sendiri


Minggu, 24 Februari 2013

Sajak di Keheningan

Terpentalkah aku, Tuhan?
Dalam dunia yang aku sendiri tak kenali

Tersesatkah aku,
Mengeragap dalam wadah yang asing
Jatuh ditelan kegugupan sendiri menghadapi imajinasi ini?

Salahkah aku,
Bila tak kutelan segala bisa di sebentuk cawan
Ketika dia memintaku bersulang merayakan malam?

Beri aku airmata,
Kerontang sudah penglihatanku akan gemerlap dunia

Sabtu, 12 Januari 2013

Eksistensi: Tak Sekedar Intensitas dan Dinamika

Pementasan Drama “Cinta yang Membunuh”
Oleh: Yosi Abdian Tindaon


Kiranya minat penonton akan lakon berbau komedi memang tengah meningkat tajam belakangan ini. Terlebih bagi kaum muda yang cenderung kurang menyukai hal-hal dengan keseriusan berlebih. Hal ini juga yang mungkin menjadi salah satu alasan Kelompok Seni Rumah Kata mementaskan sebuah lakon komedi musikal yang berjudul “Cinta yang Membunuh”. 

Lakon“Cinta yang Membunuh” pada Sabtu  22 Desember 2012 di Gedung Utama TBSU Medan. 

Berlangsung pada Sabtu, 22 Desember 2012 di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan No.33 Medan pada pukul 20.00 WIB, pementasan kali ini berlangsung atas kerja sama antara Rumah Kata dengan Maimmoen Stage. Pementasan dengan naskah karya Idris Siregar dan disutradai oleh Dendy Risnandar ini menampilkan wajah-wajah baru pelakon muda seperti Yasholta Purba, Feri Sahdan, T. Mirza D, M. Maskur, Agus Budianto, Rahayu, Syafrizal Efendi , M. Imam Fadi, Alinuddin Siregar dan lain-lain. Jalannya cerita juga diisi beberapa lagu ciptaan Idris Siregar yang dibawakan dengan apik oleh Hartika Sri utami Saragih. 

“Cinta yang Membunuh” bercerita tentang kehidupan anak muda pada umumnya dan tentu tidak jauh dari perihal asmara. Amelia –yang diperankan oleh Yasholta Purba–­­ dan Ganesh –yang diperankan oleh Feri Sahdan– menjalin kasih dalam waktu yang telah cukup lama. Hubungan mereka mulai menemui perubahan yang drastis ketika suatu waktu Amelia harus pulang ke rumah untuk menjenguk ibunya yang tengah sakit parah. 

Tak dinyana, Amelia kemudian jatuh hati pada seorang lelaki bernama Joni –yang diperankan oleh T Mirza D–. Pasalnya Amelia begitu simpatik pada Joni yang berbaik hati membantu dia dan ibunya melunasi hutang mereka yang membengkak pada rentenir. Demikian juga Ganesh yang mulai kesal dan bingung akan perubahan Amelia, mulai berkenalan dan menjalin kedekatan dengan gadis lain. 

Jumat, 30 November 2012

Rasi Tak Jadi

Berdentam-dentam tak karuan
Akulah dia, darah yang tak bermuara di raga
Luruh di segala arah
Tak lelah coba lari dari takdir kaku nan nelangsa 


Ada yang tersekat di pikiranku:
Menimbang seribu kali jika harus membagi lara, sedang kalian pilu
Sebaiknya memang hanya lembar putih yang mengerti, 
Apa makna di balik aksara indah nan memukau mata
Dan tawa renyah tak ada habisnya

Jika mereka mengulurkan tangan,
Adalah cara lain peran menegaskan kemunafikan

Pesan-pesan itu kini mengejarmu
Seperti penawar yang menyembuhkan, namun terlalu banyak akan pula merobohkan
Mereka tak akan terurai satu-satu
Sebab merekalah gubahan panjang

Yang apabila kau pisahkan,
Bukan lagi kau

Bukan garismu

Jumat, 02 November 2012

Komedi Tragis Ala Medan

Pementasan Monolog “Nensi” di TBSU
Oleh: Yosi Abdian Tindaon


            Tak selamanya sebuah pertunjukan yang mengusung tema komedi hampir dapat dipastikan akan menampilkan sebuah akhir bahagia dan penuh kelucuan juga. Bisa jadi terjadi hal yang sebaliknya. Setidaknya hal itulah yang justru terjadi pada ”Nensi”. Berlangsung pada Sabtu, 13 Oktober 2012 di Gedung Sanggar Tari Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan No.33 Medan, monolog yang ditulis oleh Syahfitra Harahap dan Ronald Tarakindo Rajagukguk tersebut menampilkan sejumlah pelakon muda dari Sanggar Air Putih. Monolog ”Nensi” adalah produksi kedua dari sanggar yang diketuai oleh Haykal Abimayu ini, setelah sukses menggelar pementasan pertamanya pada Maret lalu dengan lakon Cipoa karya Putu Wijaya. Disutradarai oleh sang pemeran utama, Ronald Tarakindo Rajagukguk, monolog ini juga disemarakkan oleh para pemeran pendukung yakni  Kannegi, Rusdi, Putri Indah, Faisya, dan Kencol.
             Dijadwalkan akan dipentaskan pada pukul 19.30 WIB, nyatanya pementasan undur beberapa saat dikarenakan meluapnya penonton tak sebanding dengan daya tampung Sanggar Tari yang terbilang mini. Meski panitia dengan segala kerendahan hati telah menghanturkan maaf dan mengajukan solusi yang tak akan merugikan para penonton yang kadung membeli tiket –namun tak dapat duduk–, hal ini memang layak menjadi catatan bagi para pekerja seni pementasan untuk kedepannya dapat lebih jeli memperhitungkan kuantitas penonton dan kedaaan ruang pementasan demi mengurangi ketidaknyamanan dan terlambatnya waktu pementasan.

Ronald Tarakindo Rajagukguk sedang berlakon dalam 
Monolog ”Nensi”Sabtu, 13 Oktober 2012
di Gedung Sanggar Tari TBSU Medan

            Sebenarnya tidak ada tema yang begitu istimewa dan ”wah” pada pementasan monolog kali ini. Bercerita tentang seorang pemuda bernama Boynal yang mengakui dirinya sebagai seorang playboy dan berkisah perihal petualangan cintanya dengan banyak wanita. Suatu ketika  Boynal yang baru saja mengalami kekecewaan mendalam pada seorang wanita,  kembali bertemu dengan seorang kawan lamanya melalu social media. Setelah pertemuan mereka, sang pria  merasa jatuh hati kepada kawan lamanya yang bernama Nensi tersebut.  Sayang sekali karena di kemudian hari  Boynal  harus menerima kenyataan pahit bahwa Nensi telah bertunangan dengan pria lain. Selanjutnya sudah dapat ditebak, playboy yang tengah kena batunya itu kemudian patah hati dan depresi. Boynal lantas menghabiskan waktu dengan melakukan segala hal buruk dan menikmati kehidupan malam yang justru semakin membuatnya terperosok ke dalam jurang despresi yang kian kelam.

Minggu, 23 September 2012

Batas Mimpi

Diam hari seakan mengancam
Berderap di ujung pintu
Menghantar gelegar dan kilat menuju ritme kian suram

Mestinya kau pahami
Betapa ingin aku terhempas kembali pada masa itu
Saat hujan membisikkan tanda,
Sungguh aku dapat tinggal lebih lama
Demi menekurimu berkisah
Perihal persinggahan mimpi di sela petang

Terkenang seorang teman dengan angan reinkarnasi

Bila saja kita akan bernafas sekali lagi di kehidupan nanti,
Jadilah kau kekasihku

Nanti
Ketika hujan mereda
Tinggal gerimis tipis, menantang kita berlari ke jalan yang dibatasi sepi



Minggu, 27 Mei 2012

Seberkas Cahaya Anggun Itu Bernama Lilin


Malam ini aku akhirnya sadar,
Sebuah lilin bisa jadi secantik ini
Bergaun putih bersih, bermahkota merah menyala
Berdiri anggun tanpa terlihat lemah

Malam ini aku akhirnya sadar
Sebatang lilin bisa jadi secantik ini
Bukan pada sebuah jamuan mewah layaknya sinema
Namun di sudut ruangan kecil
Yang penuh sesak akan penat dan ricuhnya pemikiran tak hendak lenyap

Malam ini aku akhirnya merasa bahwa lilin
Ternyata salah satu yang berharga yang kupunya
Lewat kerlip kecilnya, ia telah mengajarkan aku bagaimana menjadi penerang
Dan sekaligus menjadi pedar yang memberangus kegelisahan

Malam ini, sebentuk lilin kecil
Menghanyutkan beberapa kecemasan
Seorang gadis yang rindu rumah
Dan belum juga terbiasa akan hujan yang bergemuruh

Aku ingin jadi lilin
Setidaknya bagimu
Yang gelisah dan cemas tentang apa saja
Yang gelap dan ditenggelamkan pekat

Aku ingin jadi lilin



Senin, 30 April 2012

Mencatat Derai Angin

Biar hanya aku yang menafsir sedalam apa luka menjalar, dan garam menyihirnya kian nanar

Seribu filsuf akan membuatmu bijak
Sejuta pujangga menangkap mozaik remah kata
Meracik nestapa
Menukar luka jadi hujan mimpi dan harap dalam ucap
Selaksa noktah mengendap di hati,
Bilakah jadi susunan larik memukau telinga yang mengirimkan teriakan pada mega? 

Tapi siapa diantara keduanya
Yang akan menerjemahkan duka dalam tawa yang membahana? 
Mengemasnya dengan kelakar? 
Menyibak satu singkap,
Seseorang memilih merayakan tangis dengan tawa renyah

Agaknya detik terlalu cepat untuk kita sekedar menghitung rasa takut dan gamang
Dan mesti terus membaca arah hidup bak sungai yang enggan dibendung, mencari muaranya
Kemudian jauh ke laut bebas
Kiranya kan kau pahami arti hidup setulus kau melepas canda

- Kawan adalah mereka yang kerap mengenalkanmu semacam cara yang membuat darahmu menggelegak,  hatimu kian mantap: sebuah semangat
Kawan yang baik juga akan mengajarimu cara terbaik melazadfkan elegi sebagai tawa

How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer's night… (Joan Baez - Donna Donna) 

Minggu, 08 April 2012

Di Dahan Yang Tak Hendak Retak

Meskipun secara "istilah" dan "konsep", saya lebih sering memutuskan hubungan dengan banyak orang
Namun sejujurnya saya lebih sering merasa ditinggalkan 

Dibalut ucap kaku nan dingin, senyum yang ku kira tak lagi menemui guna
Dengan begitu, aku tak akan menafsir kemungkinan kejatuhan selanjutnya

Aku mulai mengerti pola pikir mereka yang menepi, menikmati saja hidup yang mereka punya
Tapi siapa bisa membantah,
Sesiapa di dunia inginkan berakhir di titik luka...?


 

Sabtu, 10 Maret 2012

Di Sisa Hujan

Sebab kata-kata itu menjauh
Bersama tirisnya gerimis kemarin siang
Jika kau andaikan bait-baitku bak rinai hujan,
Inikah sebuah musim kering berkepanjangan?

Dan nama-nama yang berganti
Atau harus diganti?

Matahari yang kenalkanku hujan
Hanya memandang di kejauhan, aku lari ke tanah gersang
Hei, diam-diam aku membuat batasan sebelum nalarku semakin padam

Diam-diam terus kuredam
Aku mencinta matahari yang mendekap bulan

Selasa, 21 Februari 2012

Dialog Kabut: Hujan di Tepian Kaca

Beberapa kali waktu
Terjaga sebab beberapa bebunyian samar
Merembes dari arah jendela



Suara tetesan itu adakalanya nyaring
Lain waktu terasa mencekam
Menyempurnakan sepi
Meningkahi dingin merasuk diam-diam

Hujan dan kaca
Berdua
Menjadikan kabut di jendela:
Aku tak bisa melihat
Ke luar sana

Senja Tak Terbaca

Senja, satu kali di Desember

Bermula dengan garis sejajar
Menikung
Membentuk pola
Lantas huruf hidup



Temaram adalah malam yang mengulurkan tangan
Bulan menyingkap, seperti ingin tahu
Apa gerangan yang membuat dia memberi tapal pembicaraan ?
Ataukah langit telah lebih dulu merajahkan
Lakon tentang kitab yang tak punya terjemahan ?

Ini kali bukan trilogi kisah waktu lalu
Yang di ruas-ruasnya ada pahlawan cerita
Super hero dalam skenario
Hingga
Tak jarang meriak senyum di ke-diaman
Pun penasaran tak berkesudahan

Mungkin hanya seberapa kelompok kata
Berulang kali diulang mencari pemaknaannya
Seribu kali kuguratkan peran,
Tak menepis kenyataan:

Tak tergambarkan

Kamis, 15 Desember 2011

Kritik Tajam Lewat Lakon Komedi

Pementasan Opera ”Raja dan Ratu Air”
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Berbagai macam cara penyampaian kritik dapat dilakukan sedemikian rupa, tidak hanya dengan demonstrasi dan orasi besar-besaran di jalan raya, juga lewat pertunjukan opera dan lakon komedi. Ya, komedi! Teater Gelanggang Kreasi Seni Indonesia (Generasi) bekerjasama dengan Rumah Kata mempertegas anggapan tersebut. Lewat Opera ”Raja dan Ratu Air”, Teater Generasi mencoba ikut mengkritisi pola tingkah para petinggi dan pemegang kekuasaan yang cenderung serakah, egois, licik dan menggunakan segala cara dalam mengolah dan mendayagunakan sumberdaya alam yang tersedia demi kemakmuran dirinya sendiri.



Keterangan foto:

Lakon Opera ”Raja dan Ratu Air”, Jumat, 13 Mei 2011 di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Medan.


Berlangsung pada Jumat, 13 Mei 2011 di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan No.33 Medan. Opera menampilkan beberapa aktor dan aktris muda yang tergabung dalam Sanggar Generasi Medan di antaranya Niena Winata, S. Yadhie, Cut Aida, Sutriono, Syahdi Azhari dan lain-lain. Opera diawali dengan musikalisasi puisi yang dibawakan siswa Sekolah Menengah Pertama dan dilanjutkan dengan mahasiswa FKIP UISU. Sebanyak tiga buah puisi dimusikalisasikan sebagai pembuka pertunjukan.
Opera ”Raja dan Ratu Air” yang ditulis oleh Idris Siregar dan disutradarai Suyadi San mengangkat cerita beralatar dua kerajaan yang saling memperebutkan sumber mata air yang terletak pada kerajaan Sang Ratu, namun diklaim juga sebagai milik Sang Raja. Perseteruan kian rumit sebab masing-masing utusan yang dikirim kedua belah pihak sebagai pencari informasi pihak lawan justru saling jatuh hati.
Dimulai dengan sebuah lagu yang dibawakan para pelakon. Sayang, di awal pertunjukan, kelemahan pada bagian suara sudah terasa. Tak terelakkan, suara para pelakon yang bernyanyi terdengar sayup-sayup di antara bunyi alat musik yang mendominasi. Tampaknya para pelakon telah benar-benar berusaha menampilkan performa suara terbaik dengan artikulasi yang jelas, namun tak mengimbangi deru alat musik dan riuh penonton yang didominasi oleh para pelajar SMP dan SMA.
Dijadwalkan sebagai opera yang mengusung komedi pada cerita yang ditampilkan, Teater Generasi nampaknya tidak begitu berhasil. Seumpama kendaraan yang ngadat , lajunya jadi tersendat. Penonton sesekali tertawa gelak karena dialog atau pola dan gerak pelakon yang bertingkah lucu di atas panggung. Tapi sayang, gelak tawa penonton tidak mendominasi opera. Sebagian besar penonton bahkan merasakan jenuh disebabkan dialog yang monoton dan pelakon asyik sendiri di atas panggung pertunjukan.
Harapan penonton untuk menyaksikan lakon komedi yang menghibur tak dapat terpenuhi. Niat utuk menampilkan kesegaran dalam kancah teater Medan –yang kerap kali mementaskan teater dengan ”keseriusan” dan ”kerumitan” – , Opera ”Raja dan Ratu Air” diibaratkan hidangan yang perlu ditanak lebih lama lagi agar benar-benar menghasilkan cita rasa yang nikmatnya tidak setengah-setengah.
Kemegahan biasanya tak lepas dan selalu bersinggungan dengan sebuah kerajaan. Demikian juga tata panggung Opera ”Raja dan Ratu Air” memperlihatkan dengan jelas keanggunan singgasana yang menawan, juga penuh warna-warna ceria. Pun begitu, tak menggambarkan konsep kerajaan secara detail.

Menyingkap Kesepian Apresiasi

Workshop Musikalisasi Puisi di USU
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Ungkapkan dengan kata, pertegas dengan bunyi. Demikian yang dapat disarikan pada ”Workshop/ Pelatihan Musikalisasi Puisi Guru SMP/ SMA dan Mahasiswa Se-kota Medan dan Sekitarnya” yang berlangsung pada Jumat dan Sabtu 18-19 Maret 2011 mulai pukul 09.00 s/d 17.00 WIB di ruang serbaguna Fakultas Sastra USU.
Pelatihan ini dilaksanakan atas kerjasama: Komunitas Musikalisasi Puisi (KOMPI) Medan, Departemen Etnomusikologi,Fakutas Sastra USU, dan Program Studi Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni USU.
Pelatihan terbilang komplit dari segi materi. H. Fredie Asri memaparkan pengalaman menggeluti musikalisasi puisi bersama sanggarnya, Sanggar Matahari. Hasan Al Banna membahas ide dalam puisi. Drs. Irwinsyah Harahap, M.A berbagi pandangan akan seni dan kebudayaan dan pengalaman beliau dalam musikalisasi puisi. Tahan Perjuangan Manurung, S.Sn cenderung menjelaskan komposisi musik dalam musikalisasi puisi. Dan Ahmad Arief Tarigan, S.sn yang turut menjelaskan musikalisasi puisi ditinjau dari istilah dan metodenya.


Keterangan foto:

Para pemateri: Hasan Al Banna (Kiri), Tahan Perjuangan Manurung, S.Sn, H. Fredie Asri, dan Ahmad Arief Tarigan, S.sn dalam ”Workshop Musikalisasi Puisi” di USU, Jumat – Sabtu (18-19/ 12)

Seni rupa-rupanya telah kehilangan identitasnya. Demikian kalimat Drs. Irwansyah Harahap, M.A. Ya, perubahan besar-besaran telah terjadi pada seni belakangan ini. Zaman membawa kita pada suasana yang penuh kebaruan. Apresiasi terhadap seni berubah-ubah karena adanya revolusi pasar. Seni menjelma produk atau komoditi. Industrialisasi seni mengikis habis ide seni yang lebih dalam dan membuatnya menjadi pasaran. Esensi seni hilang ditelan zaman yang sempit dan membunuh kreatifitas orang-orang.
Memang, terdapat paradigma yang mengucilkan bidang kesenian belakangan ini. Memandang bidang kesenian sebagai suatu hal perlu dikesampingkan dan tidak dapat disejajarkan dengan disiplin ilmu lainnya. Sayangnya pandangan itu tumbuh subur di negara berkembang seperti Indonesia ketika negara-negara di Eropa justru melakukan hal sebaliknya.


Dari Komunitas Hingga Gelar Sastrawan

Omong-omong Sastra di Binjai
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Kediaman yang asri milik salah satu sastrawan Sumatera Utara, Saripuddin Lubis di Binjai, ternyata tak menjamin sebuah diskusi akan berlangsung dingin dan sejuk. Diskusi mengenai komunitas sastra mungkin tak akan ada habisnya. Pembicara, bahkan masing-masing peserta memiliki pendapat yang berbeda soal topik pembicaraan. Setidaknya hal itu akan terlihat pada ”Omong-omong Sastra” yang diadakan pada Minggu, 6 Maret 2011 sejak pukul 11.00 WIB. ”Omong-omong Sastra” merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan para sastrawan Medan (Sumatera Utara). Konon, wadah diskusi antar para sastrawan ini sudah berlangsung sejak 35 tahun yang lampau.



Keterangan foto:

Damiri Mahmud (kanan), Wahyu Wiji, Afrion dan Yulhasni dalam “Omong-omong Sastra” di Binjai.


Acara diskusi ini berlangsung secara periodik (tergantung waktu dan kesempatan) dari rumah ke rumah. Sejumlah sastrawan tampak hadir pada diskusi kali ini seperti; Damiri Mahmud, D. Rivai Harahap, Sulaiman Sambas, M. Raudah Jambak, Hasan Al Banna, Nasib TS, Norman Tamin, Idris Siregar, M. Yunus Rangkuti, Herni Fauziah serta beberapa penulis muda lainnya. Diskusi berlangsung sekitar 4 jam dan dimeriahkan juga dengan pertunjukan musikalisasi puisi yang dibawakan dengan sangat apik oleh siswa SMAN 2 Binjai.
Afrion ditunjuk forum sebagai pemandu dua pembicara: Yulhasni (pengamat sastra) dan Wahyu Wiji Astusti (penulis dan penggiat komunitas). Yulhasni menyodorkan tema komunitas sastra di Sumut. Selanjutnya, Wahyu Wiji Ayu banyak menyinggung topik sastra kontemporer. Kedua pembicara menyampaikan pemikirannya dengan apik meskipun lebih banyak membaca makalahnya hingga lembar terakhir. Diskusi yang berkembang selanjutnya lebih dititikberatkan pada masalah komunitas sastra.
Ya, Yulhasni lewat makalahnya mengurai satu kenyataan yang kemudian dianggap sebagai masalah. Komunitas sastra belakangan memang tengah berkembang dengan pesat di Sumatera Utara, terutama di beberapa kampus yang memiliki beberapa komunitas sekaligus. Beliau merasakan fakta bahwa komunitas sastra yang tersebar di Medan belakangan ini hanyalah sebagai wujud perayaan penciptaan karya dan berkumpulnya penulis sastra tanpa melakukan perubahan besar demi kemajuan ranah sastra Medan. Bagi Yulhasni, suatu kelompok kesusatraan sebenarnya dilahirkan untuk sebuah kelahiran baru bagi genre sastra itu sendiri. Beliau bernasihat kritis betapa sebaiknya komunitas sastra harus memiliki ideologi dan mencipta sesuai ideologi yang diusung. Dan perlunya komunitas-komunitas melakukanpenolakan hegemoni yang tidak sesuai.
Sebagai salah satu peserta diskusi, Dani Sukma A.S berpendapat lain. Dia menuduh pembicara melupakan hal yang paling mendasar tentang alasan seseorang memilih masuk ke dalam sebuah komunitas sastra. Tentu ingin mengetahui bagaimana cara menulis sastra yang baik dan bagaimana agar dapat mengembangkan kemampuan menulisnya. Pembentukan sebuah komunitas penulis kampus adalah juga sebuah upaya pembuktian bahwa seorang sarjana mampu menulis serta bersastra dan tidak hanya bergelut dengan bidang akademisi semata. Bayangkan, bagaimana ketika kemudian penulis pemula disodori dengan ideologi?
Damiri Mahmud lain pula. Damiri menyatakan bahwa inovasi pada ranah sastra tidak harus melalui gebrakan dan penemuan genre baru. Melainkan yang lebih penting adalah bagaimana seorang sastrawan dapat terus menulis dan memberikan pencerahan bagi semua orang tanpa harus terpatok pada genre penciptaan dan akhirnya melakukan kemunafikan.
Sementara itu, Wahyu dalam makalahnya menjelaskan ihwal puisi kontemporer yang belakangan marak dibicarakan dan ditulis oleh beberapa penyair muda. Secara pribadi Wahyu menjunjung tinggi kebebasan dalam menulis dan berekspresi. Meskipun begitu, banyak penulis muda lainnya masih merasa bahwa puisi konvensional lebih indah karena mudah dimengerti dan sederhana hingga pesan yang terkandung akan dapat ditangkap oleh pembaca. Dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) yang diketuainya, Wahyu menggiring anggotanya untuk terlebih dahulu menekuni proses penciptaan puisi konvensional.
Hakikatnya, kedua topik yang dibahas pada “Omong-omong Sastra” berkaitan erat. Pembahasan ‘kemeriahan’ komunitas sastra di Medan diharapkan melahirkan sebuah gebrakan baru atau bahkan genre baru dalam ranah kesusastraaan yang akhir-akhir ini dianggap monoton. Ulasan Wahyu tentang sastra kontemporer juga terkait langsung dalam kesemarakan kesastraan itu sendiri. Sastra kontemporer (dalam konteks kebaruan ideologi) itulah yang mungkin ditagih Yulhasni dari pena para penulis yang berkhidmat di komunitas-komunitas sastra di Medan yang berpusat di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU).
Kebebasan pada hakikatnya adalah milik semua orang. Juga milik setiap penulis, baik dari segi penyampain maupun dari segi isi. Besar harapan, kiranya para sastrawan tidak terlena akan kebebasan yang dimilikinya. Sehingga tidak semata-mata memamerkan keahlian dan kekreatifan yang luar biasa sehingga tak jarang sebuah puisi sama sekali tidak dapat diinterpretasi dengan mudah oleh para pembaca. Hal ini dapat dengan mudah terlihat. Bahkan para mahasiswa Jurusan Sastra akan mengalami kesulitan untuk memaknainya. Lantas bagaimana dengan para pembaca awam lainnya? Dan benarkah sudah tersedia banyak sastrawan yang mampu menjelaskan dengan benar akan makna yang sebenarnya dari puisi-puisi yang menyimpang tersebut?
Pada akhirnya tidak dapat dielakkan bahwa puisi-puisi kontemporer dengan permainan bahasa serta tipografi sedemikian rupa, terkadang justru menimbulkan kebingungan dan tentu saja akan ditinggalkan masyarakat. Yang lebih diperlukan bangsa kita pada saat ini adalah karya sastra yang sederhana, komunikatif, mudah dicerna dan tentu saja mengandung pesan-pesan pencerahan. Dengan demikian juga dapat menumbuh kembangkan minat mengapresiasi sastra oleh masyarakat luas.
Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Tentu saja kehadiran komunitas-komunitas penulis di Medan layaknya disambut baik, sebab dari komunitas-komunitas itulah diharapkan melahirkan para sastrawan yang berkarakter. Ideologi yang diharapkan tumbuh di setiap komunitas bisa saja makin kokoh seiring berjalannya waktu dan proses kreativitas anggota komunitas. Pun demikian, tidaklah sebuah komunitas diharuskan memiliki sebuah ideologi dalam menulis atau berkarya, karena justru akan membatasi perjalanan hasil sastra.
Namun, tidak seharusnya komunitas menjadi tempat bergantung para penulis sehingga akan membunuh kemandirian penulis itu sendiri. Kelak penulis yang sangat bergantung pada komunitasnya akan rikuh ketika harus terjun sendiri tanpa bantuan komunitas. Belenggu komunitas juga kian rapat karena pada akhirnya tak jarang penulis kurang bersosialisasi dan merasa eksklusif dengan komunitasnya. Seolah tak membutuhkan dunia lain di luar komunitas. Komunitas agaknya bukan sarana pembaptisan bagi calon sastrawan. Seperti halnya penyataan ekstrem Yulhasni yang mengatakan bahwa TBSU juga menjelma sebagai arena baptis seseorang menjadi sastrawan.
Begitupun, kedua pemikiran demikian di atas tetap bisa didebat. Terkhusus pernyataan Yulhasni yang dituding beberapa peserta diskusi berlebihan. Betapa tidak? Banyak orang yang berkunjung ke TBSU untuk masuk ke proses pembelajaran aneka seni, terutama sastra.
Namun, dangkal juga jika kemudian pernyataan Yulhasni ditelan begitu saja. Manalah ada asap tanpa api? Yulhasni tak mungkin berpendapat sedemikian rupa tanpa bukti-bukti dan kenyataan yang ditemui di lapangan sebab beliau juga termasuk orang yang sering ”singgah” di TBSU. Apakah memang terdapat banyak orang yang mengakui diri sebagai sastrawan setelah sering berkunjung dan berdiskusi ke TBSU? Boleh jadi!
Segelintir orang yang terganggu pernyataan kontroversial tersebut setidaknya haruslah bertanya pada diri sendiri. Selanjutnya mencoba memberikan penyanggahan dengan menelurkan karya-karya nyata dan tidak hanya berlalu lalang di TBSU semata.
Demikianlah, ”Omong-omong Sastra” kali ini benar-benar menggiring kita untuk menjejaki ranah berpikir yang belum pernah kita injak sebelumnya.

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
di FBS Unimed

- Harian Waspada, Minggu, 13 Maret 2011

Kemelut Yang Merubungi Telinga

Visualisasi Puisi Di TBSU
Oleh: Yosi Abdian Tindaon

Tidak hanya melahirkan banyak penderitaan dan kesedihan, ternyata berbagai kemelut dan bencana yang terjadi di negara kita juga dapat memekakkan telinga. Setidaknya hal tersebutlah yang terasa di menit-menit awal pertunjukan ”Visualisasi Puisi” oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Medan, hingga melumpuhkan kenyamanan telinga sebagian besar penonton. Dentuman soundsystem nampaknya terlampau perkasa meskipun gedung utama merupakan arena terbesar di Taman Budaya Sumatera Utara.



”Visulisasi Puisi” yang berlangsung pada Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Rabu, 15 Desember 2010 lalu dipentaskan dengan latar panggung yang cukup megah berupaya mengajak penonton untuk sejenak merenungkan dan menyadari berbagai persoalan yang melanda negeri ini. Pertunjukan ”Visulisasi Puisi” dibuka dengan puisi Chairil Anwar berjudul ”Persetujuan dengan Bung Karno”, dilanjutkan dengan beberapa puisi karya Idris Pasaribu, Juhendri Chaniago, Sakinah Annisa Mariz, Sidrata Emha, H. Ahmadun Yosi Herfanda, dan Antilan Purba.
Melalui visualisasi seperti ini, selain menyaksikan penyampaian yang berbeda dalam berpuisi—kerpa dalam bentuk deklamasi atau baca puisi—,kita dapat menyaksikan sejarah kecil pergolakan serta rentetan bencana yang belakangan agaknya sering berkunjung ke negara kita. Sejarah yang dirangkum lewat lirik-lirik tajam, puitis, pedih, ditingkahi pola gerak dan tari serta musik dan tentu saja mengandung pesan nasionalisme yang kental dan pengaduan pilu kepada Sang Pencipta alam.


Minggu, 26 Juni 2011

Sekali ini saja. Tuhan, Berjanjilah.......


Belajar dari jalan-jalan yang menikung
Dan dari apa saja yang tak lurus-lurus saja dalam hidup ini

Baru saja kupanjatkan doa,
Untuk Tuhan menyampaikan semua rasa rinduku demi melihatmu dan berbincang denganmu
Cerita apa yang tak kubagi?
Riang sekecil apa yang tak hendak kuceritakan?
Keluhan seperti apa yang akan membuat kau menutup telinga?
Diamku yang sebagaimana yang tak kau mengerti?
Dan berulangkali kau tinggalkan aku sendiri, sebab kau paham, kali ini tangisku bukanlah jangkauanmu

Sakit sesakit apa yang membuat kau tetap terjaga hingga mentari menari dan lelap lagi?
Sepatah apa aku menyerah?
Langkah beratku yang mana yang tak kau tuntun jua?

Perih berpuluh jarum yang menusuk kulit,
Tak sepadan dengan nanar mataku memandangimu lelah menungguku melangkah

Sejak beberapa waktu lalu aku membaca lukisan-lukisan tak nyata pada pinggir-pinggir hujan
Pada petang yang menjerang
Membawa gelap ke pangkuan purnama

Siklus hidup kita begitu-begitu saja
Kita lahir
Hidup
Tersenyum
Menangis
Tertawa

Bahagia, derita adalah dua sisi yang tetap bersama

Dan akhirnya menemui tiada

Kengerian akan makna penghabisan bukanlah esensi hidup yang paling pantas untuk ditakutkan
Tapi, kesiaan tak terelakkan, meski diluar kendaliku,
Adalah alasan yang kerap membuat mengutuk diri sendiri

Aku saja
Aku lelah
Jangan mendahului

Berjanjilah.....

Ibu

Terus mencari meski esok mentari pergi, Sudut tepi menjelang abadi itu cuma mimpi

Maaf karena aku bukanlah filsuf yang kata-katanya senantiasa bijaksana

Maaf untuk tidak menjadi malaikat yang menyampaikan pesan-pesan indah
Sedang aku, sarkasme nyata

Maaf juga, jika puisiku kehilangan puitisnya
Cerminan diri dengan ego yang begitu tinggi
Dan belum lagi bisa memanusiakan manusia dengan barisan kata

Kontemplasiku memang seputar rasa sakit dan pedar duka
Tapi aku bukanlah
Seniman kata yang sakit jiwa

Kucipta puisi berakar pisau
Jangan kau eja bila tak mau luka

Baiklah
Itu saja

Minggu, 13 Februari 2011

Sepi itu antara mati dan tidak mati. Hidup!


Apa yang membuatku diam?
Tentu saja karena merasa tak perlu kita bicara

Apa yang membuatku menjauh, justru ketika orang-orang mendekat?
Karena mereka buta, tak akan menerima ada adanya
Yang tertangkap mata hanyalah indah
Seolah sempurna
Yang sebenarnya adalah bongkahan rapuh yang menunggu luruh

Aku benci penolakan
Baiknya aku yang melakukan
Daripada ditinggalkan?
Melukai lebih baik ketimbang terluka
Maaf saja, seluruh tubuh penuh gores berdarah

Apa yang membuatku menutup telinga dengan nada?
Kalian terlalu banyak memuntahkan sampah
Semakin banyak tau, semakin kotor aku

Apa yang membuat aku mengunci rapat-rapat pintu sepanjang hari?
Basa-basi mereka itu itu saja sepanjang waktu
Basi

Apa yang membuat aku ketakutan?
Karena sendiri dan kesepian yang menjadi pilihan melahirkan kegelisahan baru
Bukannya tenang

Apa yang membuat aku menangis tertahan?
Ketika rindu
Ketika kehilangan
Ketika sakit dan membayangkan mati
Tentunya aku belum punya alasan yang kuat untuk membenarkan pilihanku untuk sendiri di sudut kamar
Diam
Menikmati nada
Tersenyum

Kiranya aku sedang mencari sebuah pembenaran
Yang terkadang terasa kupaksakan

Minggu, 19 Desember 2010

Kupinjamkan kau cermin, Jangan lupa kembalikan

Kupinjamkan sajalah kau cermin
Biar bisa akau lihat coreng moreng di wajahmu
Tak kan kentara di meja rias mewah
Yang ada lima mungkin di tiap rumah kau punya

Kupinjamkan sajalah kau cermin
Agar terlihat matamu
Rupa yang serupa iblis melahap semua benda tak bersisa
Mulutmu tak ubahnya gua
Hingga tiada cukupnya kau telan yang tak seharusnya

Langkah sepatumu akan perdengarkan jerit lapar kami
Baju mahalmu bertahtahkan air mata darah derita kaum papa
Mobil mewahmu, jelmaan buku dan pena yang tak pernah di jamah
Anak kecil yang berdendang di lampu merah
Rumahmu akan ujarkan pekikan sakit tak terobati sejuta orang tak berharta

Kupinjamkan kau cermin, jangan lupa kembalikan
Satu-satunya yang kupunya
Setidaknya akan memuatmu menemukan diri yang hakiki

Kupinjamkan kau cermin!